Sabtu, 28 Februari 2026

Jangan Ditahan: Alirkan Tiga Arus Keberkahan

- Sabtu, 21 Februari 2026

| 19:34 WIB

Presidium FSPP Banten Dr. Fadlullah. (Foto: Dok. Istimewa)

Oleh: Dr. H. Fadlullah, S.Ag., M.Si. (Presidium FSPP Provinsi Banten)

Sore ini, 21 Februari 2026 jelang berbuka, KH. Anang Azhari Alie mengirimkan pesan tentang kedermawanan Nabi saat Ramadan. Muhammad adalah orang yang paling dermawan, dan beliau lebih dermawan lagi pada bulan Ramadan sebagaimana diriwayatkan dalam Shahih Bukhari. Kedermawanan beliau bukan sekadar materi, tetapi pancaran kepedulian yang menghidupkan banyak jiwa. Sedekah memadamkan murka Allah, menghapus dosa, dan menjadi sebab keselamatan. Ia melembutkan hati, melapangkan rezeki, dan menjaga keberkahan hidup. Pesan itu sederhana namun dalam: jangan tahan kebaikan, terlebih di bulan penuh rahmat.

Pesan kedermawanan itu menjadi cermin bagi kehidupan kita hari ini, baik di sekolah maupun di pesantren. Ramadan memberi inspirasi tentang apa yang harus ditahan dan apa yang harus dialirkan. Nafsu ditahan, amarah dikendalikan, dan ego diredam agar jiwa tetap jernih. Namun sedekah, kepedulian, dan tanggung jawab sosial justru harus dilepaskan seluas-luasnya. Bulan ini mendidik kita agar kuat secara spiritual sekaligus peka secara sosial. Keberkahan lahir dari keseimbangan antara ibadah dan tanggung jawab. Dari kesadaran inilah energi jiwa bangkit, menyalakan kembali semangat pengabdian.

Guru mengajar dengan dedikasi, dan murid belajar dengan suka cita. Di ruang kelas dan di lingkungan pesantren, penjelasan disampaikan dengan kesungguhan, sementara murid mendengar dengan tekun dan penuh hormat. Ilmu tidak sekadar dipindahkan, tetapi ditanamkan dalam jiwa dan karakter. Ilmu yang bermanfaat menjadi amal yang tak terputus. Setiap huruf yang diajarkan dengan ikhlas akan berbuah panjang. Dari proses inilah fondasi generasi Qurani mulai dibangun.

Dari ruang belajar yang hidup itulah kebutuhan nyata sekolah dan pesantren bertumpu. Listrik harus menyala agar kelas terang dan teknologi berfungsi. Air harus mengalir agar kebersihan dan kesehatan terjaga. Kertas dan tinta diperlukan untuk administrasi, laporan, dan bahan evaluasi pembelajaran. Semua itu bukan kemewahan, melainkan fondasi operasional. Tanpa dukungan bersama, ekosistem pendidikan yang penuh semangat bisa ikut terganggu.

Karena itu, peran orang tua menjadi penopang yang tak terpisahkan. Orang tua mengalirkan sedekah jariyah melalui dukungan terhadap pendidikan anak-anaknya, baik di sekolah maupun di pesantren. Setiap kontribusi, sekecil apa pun, bernilai besar jika diniatkan dengan tulus. Memberi sedikit tetapi terus-menerus lebih baik daripada tidak sama sekali. Nabi menyukai amal yang istiqamah walau sederhana. Dukungan yang konsisten menjaga roda pendidikan tetap berputar dan cita-cita melahirkan generasi Qurani tetap menyala.

Jika ada kesulitan, keterbukaan adalah kemuliaan. Sekolah, pesantren, dan orang tua adalah mitra dalam amanah besar membangun generasi Qurani yang cerdas dan berakhlak. Pendidikan bukan hubungan transaksional semata, melainkan kolaborasi ruhani dan sosial. Komunikasi yang jujur melahirkan empati, bukan prasangka. Dari kepercayaan tumbuh kekuatan bersama. Amanah besar ini hanya dapat dijaga dengan saling memahami dan saling menguatkan. Semangat! Muliakan guru, dengarkan jeritan bunyai karena tunggakan SPP sebagian santri.***