SERANG, BANTENPRO.CO.ID – Warga RT 01 dan RT 02 RW 02 Karundang Tengah, Kota Serang, menggelar tradisi tolak bala dalam rangka menyambut Rebo Wekasan. Tradisi tahunan yang terpusat di Musala Al Hidayah ini menjadi bentuk ikhtiar warga dalam memohon keselamatan agar terhindar dari berbagai bencana.
Rebo Wekasan merupakan hari Rabu terakhir pada bulan Safar dalam penanggalan Hijriah. Rangkaian ritual yang diwariskan secara turun-temurun ini meliputi salat tolak bala, doa bersama, pembagian makanan, hingga tradisi dudusan atau mandi menggunakan air bunga yang telah didoakan.
Ketua RT 01 Karundang Tengah, Bian, menjelaskan bahwa rangkaian acara diawali dengan salat tolak bala empat rakaat dengan dua kali salam. Salat ini dapat dilakukan secara berjemaah di musala maupun sendiri di rumah.
“Salatnya empat rakaat, dua salam. Kalau tidak berjemaah, sendiri-sendiri juga boleh. Hanya saja ada yang memimpin agar jemaah bisa mengikuti gerakannya,” ujar Bian, Rabu (12/8/2026).
Bian menuturkan, ibadah tersebut dimaknai warga sebagai sarana memohon perlindungan dari marabahaya. “Katanya Allah menurunkan 320 ribu bala. Karena Allah Maha Rahman dan Rahim, kita menunaikan salat ini untuk menghindari musibah,” kata Bian.
Usai salat, warga melanjutkan kegiatan dengan doa bersama. Makanan yang telah disiapkan warga didoakan terlebih dahulu sebelum dibagikan kembali kepada masyarakat.
Rangkaian acara kemudian ditutup dengan tradisi dudusan. Sebelum digunakan, air untuk ritual ini terlebih dahulu dibacakan doa. “Airnya didoakan dulu sebelum dimandiin,” tutur Bian.
Salah seorang warga Karundang Tengah, Niah, mengungkapkan bahwa tradisi ini terus dijaga agar tidak punah ditelan zaman.
“Tradisi ini warisan kakek moyang kami. Orang tua kita sudah tua, jadi kami penerusnya. Tidak pernah ditinggalkan setiap Rebo Wekasan,” kata Niah.
Menurut Niah, siapa saja boleh mengikuti tradisi dudusan ini. Warga cukup datang membawa wadah atau ember masing-masing untuk mengambil air doa tersebut. Air dudusan ini sebelumnya direndam bersama aneka bunga sejak malam hari.
“Orang mana pun kalau mau ke sini, tinggal bawa ember. Intinya minta keselamatan. Airnya juga bisa untuk berbagai keperluan warga, termasuk diminum atau dibawa untuk kendaraan,” ujar Niah.***













