Di tengah keberagaman dunia pondok pesantren di Provinsi Banten, terdapat sebuah organisasi yang berperan sebagai perekat persatuan dan pemersatu berbagai perbedaan. Forum Silaturahim Pondok Pesantren Provinsi Banten (FSPP) bukan sekadar organisasi pesantren biasa, melainkan wadah kokoh yang telah menjadikan tradisi “jaulah” sebagai landasan utama dalam membangun persatuan umat. Tradisi yang diwariskan oleh para kiyai pendiri ini memiliki makna strategis yang sangat dalam dan tidak boleh hilang dari ingatan generasi muda Khususnya Pengurus Forum Silaturahim Pondok Pesantren Provinsi Banten dari level Provinsi sampai Kecamatan.
Kita mungkin mengenal kata “Jaulah” melekat pada sebuah kelompok jama’ah dakwah seperti Jama’ah Tabligh yang berkeliling mendatangi masyarakat kerumah – rumah untuk menyiarkan agama dan mengajak ke masjid, “Jaulah” dalam tradisi Kiyai Pendiri FSPP memiliki makna yang sama namun memiliki bentuk dan dimensi yang berbeda.
Jaulah dalam tradisi di FSPP adalah sikap aktif Kiyai dalam berkomunikasi antar pondok pesantren sehingga terjalin kesamaan rasa dan kebutuhan untuk bersatu guna bersama-sama memajukan pendidikan pondok pesantren yang berada di Provinsi Banten. Kesamaan pikiran membentuk kesamaan sikap dan gerak sehingga terjadi langkah kolektif dalam memajukan kesejahteraan pondok pesantren, dari silaturahim mengalir dalam bentuk pemberdayaan antara Pondok Pesantren saling asah, asih dan asuh sesama ponpes.
FSPP lahir dari pemahaman bahwa keberagaman adalah sesuatu yang wajar dan harus dikelola dengan bijak serta berdiri diatas semua golongan. Dalam konteks pondok pesantren Banten, perbedaan model dan budaya menjadi tantangan yang harus dihadapi.
FSPP berhasil menciptakan model kepengurusan yang unik dengan mengakomodir berbagai latar belakang ormas Islam di Banten. Para kiyai pendiri secara sengaja merancang struktur organisasi yang inklusif, mencakup para cendekiawan muslim yang memberikan panduan intelektual, akademisi dari berbagai perguruan tinggi pesantren, praktisi yang memiliki pengalaman lapangan, serta tokoh masyarakat yang memiliki pengaruh positif. Struktur ini memastikan bahwa keputusan organisasi tidak hanya didasarkan pada perspektif satu golongan, melainkan merujuk pada kebijaksanaan kolektif dari berbagai kalangan.
Banten dikenal memiliki berbagai model pondok pesantren, seperti pesantren salafiyah yang mengedepankan kitab kuning dan tradisi klasik, pesantren modern yang mengintegrasikan kurikulum umum dengan pendidikan agama, serta pesantren kombinasi yang menyeimbangkan antara tradisi dan inovasi. FSPP berperan sebagai mediator yang memfasilitasi dialog dan kolaborasi antar model pesantren ini, sehingga tercipta sinergi yang saling menguatkan.
Konsep “jaulah” merupakan inti dari filosofi FSPP. Istilah ini memiliki makna yang lebih dalam dari sekadar “silaturahim” biasa. Jaulah mengandung pengertian: jalinan yang erat dan tahan lama, jalinan yang saling membutuhkan, serta jalinan yang berkelanjutan dari generasi ke generasi.
Para kiyai pendiri FSPP, yang terdiri dari tokoh-tokoh pendiri salah satunya KH Sulaeman Ma’ruf seorang yang memiliki semangat silaturahim yang sangat tinggi dan para kiai senior lainnya baik yang sudah wafat seperti Almaghfurlah KH.Maimun Alie, KH.Ading juga KH.Matin Jawahir dan masih banyak tokoh pendiri FSPP lainnya , menyadari bahwa persatuan umat tidak bisa dibangun melalui pemaksaan atau tekanan.
Ini yang menjadi inti pesan Ketua Dewan Pertimbangan Presidium KH. Ikhwan Hadiyyin juga Wakil Ketua Pertimbangan Presidium KH.Anang Azhari Ali dalam halal Bil halal FSPP, yang menarik kita diajak memiliki nafas dengan aliran nafas profetik “maafkanlah orang yang telah menyakitimu” , satu pesan yang disampaikan juga oleh Syaikh Abdul Qadir Al Jailani dalam Kitab Fathurrabbani dengan pesan “Tersenyumlah pada orang yang telah berbuat zhalim kepadamu” seperti kita diajak pada maqam tasawuf yang mudah diucapkan namun sulit di amalkan, namun itu adalah sebuah nilai budaya yang tinggi dari sebuah organisasi pesantren yang didalamnya terdapat banyak kiyai dan cendekiawan berhimpun.
Dinamika sesulit apapun yang terjadi dalam tubuh organisasi akan menemukan solusinya melalui “jaulah” yang didasarkan pada tiga hal: pertama, ajaran Islam yang menjadikan silaturahim sebagai bagian integral sejak zaman Rasulullah SAW; kedua, pengalaman para kiyai yang melihat betapa pentingnya persatuan dalam menghadapi berbagai tantangan; dan ketiga, kebutuhan nyata pesantren-pesantren di Banten akan wadah untuk bersilaturahim secara terstruktur.
Tradisi jaulah diwujudkan dalam berbagai bentuk aktivitas, seperti rapat rutin kiyai yang diadakan secara berkala, musyawarah tahunan untuk membahas perkembangan pesantren, kunjungan silaturahim antar pesantren, program pendidikan bersama untuk santri dari pesantren berbeda, serta kegiatan sosial kolektif seperti bakti sosial dan dakwah.
Landasan syar’i silaturahim sangat kuat dalam ajaran Islam. Allah SWT berfirman dalam QS. An-Nur: 37 yang menekankan pentingnya memelihara akhlak dan moral, di mana silaturahim menjadi bagian dari perintah tersebut. Nabi Muhammad SAW juga bersabda, “Allah tidak menyayangi orang yang tidak menyayangi hamba-hamba-Nya.” Hadits ini menunjukkan betapa pentingnya sikap penyayangan dan kebaikan dalam hubungan antar manusia, termasuk dalam konteks silaturahim.
Dalam QS. Ali Imran: 103, Allah berfirman, “Dan peganglah kamu semuanya pada tali (agama) Allah dan janganlah kamu bercerai-bercerai…” Ayat ini menunjukkan bagaimana Allah SWT menyatukan hati umat melalui nikmat-Nya, dan silaturahim adalah implementasi nyata dari penyatuan ini. Rasulullah SAW juga bersabda bahwa orang-orang mukmin di hari kiamat akan saling mengenali karena shalat yang rutin, yang menunjukkan bagaimana shalat sebagai bentuk silaturahim dengan Allah dan sesama mukmin dapat menjadi penyejuk hati. Dalam QS. Al-Hujurat: 11, ditegaskan bahwa hubungan yang baik antar mukmin dapat membantu dalam menjaga akhlak.
Struktur organisasi FSPP yang inklusif tercermin dari kepengurusan yang representatif, meliputi perwakilan dari berbagai daerah di Provinsi Banten, berbagai model pesantren (salaf, modern, kombinasi), berbagai kalangan (ulama, akademisi, praktisi, tokoh masyarakat), serta berbagai usia (tua, muda, senior, junior). Keputusan di FSPP diambil melalui musyawarah yang melibatkan berbagai pihak, mulai dari musyawarah kiyai senior untuk isu-isu strategis, musyawarah pimpinan untuk pelaksanaan program, musyawarah umum untuk evaluasi dan perencanaan, hingga tim kerja untuk pelaksanaan spesifik.
Dampak positif tradisi jaulah sangat terasa. Melalui tradisi ini, pesantren-pesantren di Banten mengalami peningkatan kualitas, seperti pertukaran pengalaman antar kiyai dan pengasuh pesantren, pembelajaran bersama metode pengajaran yang efektif, sinergi sumber daya antar pesantren, serta peningkatan kualitas santri melalui program pendidikan bersama.
Tradisi jaulah juga telah membantu membangun soliditas umat di Banten, meliputi pemahaman antar golongan yang lebih baik, kerjasama dalam kegiatan sosial yang lebih terkoordinasi, tanggung jawab kolektif dalam memelihara keberagaman, serta persatuan dalam menghadapi tantangan bersama.
Meskipun memiliki makna yang dalam, tradisi jaulah menghadapi beberapa tantangan, seperti generasi muda yang kurang memahami makna tradisi, perubahan zaman yang mempengaruhi pola hubungan, individualisme yang meningkat di tengah masyarakat, serta globalisasi yang membawa pengaruh budaya asing.
Namun, FSPP melakukan berbagai upaya untuk melestarikan tradisi jaulah, di antaranya pendidikan karakter kepada santri tentang pentingnya silaturahim, program mentoring kiyai muda oleh kiyai senior, workshop dan seminar tentang nilai-nilai tradisi, publikasi melalui media cetak dan digital, serta kerjasama dengan institusi pendidikan untuk menyebarkan nilai-nilai tersebut.
Tradisi “jaulah” yang diwariskan oleh para kiyai pendiri FSPP Banten merupakan warisan berharga yang harus dilestarikan. Tradisi ini bukan hanya sekadar ritual silaturahim, melainkan filosofi kehidupan yang mengandung makna strategis dalam membangun persatuan umat.
Keberhasilan FSPP dalam menjadikan diri sebagai perekat perbedaan menunjukkan bahwa keberagaman bukanlah penghalang bagi persatuan, melainkan kekayaan yang harus dijaga dan dikembangkan. Dengan tradisi jaulah, FSPP telah membuktikan bahwa pesantren-pesantren di Banten dapat bersatu dalam keberagaman dan bersama-sama membangun masa depan yang lebih baik.
Marilah kita bersama-sama melestarikan tradisi jaulah ini agar tidak hilang dari ingatan generasi mendatang, sehingga persatuan umat di Banten terus terjaga dan pesantren-pesantren terus berkembang dengan kokoh dan solid.
Pena Malam- Wari Syadeli














