Kamis, 21 Mei 2026

Tekan Angka PPKS, Dinsos Kota Serang Gelar Pelatihan Barista hingga Perbengkelan

- Kamis, 21 Mei 2026

| 18:18 WIB

Kepala Dinsos Kota Serang, Kusna Ramdani. (Foto: Mahyadi/bantenpro.co.id)

SERANG, BANTENPRO.CO.ID – Dinas Sosial Kota Serang terus bergerak aktif menekan angka Pemerlu Pelayanan Kesejahteraan Sosial (PPKS) melalui berbagai program pemberdayaan masyarakat. Sepanjang tahun 2026 ini, dinas fokus menggulirkan pelatihan keterampilan kerja, mulai dari bidang kuliner seperti barista hingga keahlian teknis perbengkelan, guna memberikan bekal kemandirian ekonomi bagi warga yang membutuhkan.

Kepala Dinsos Kota Serang, Kusna Ramdani, mengungkapkan, salah satu program yang baru saja rampung dan berjalan sukses adalah pelatihan barista yang diikuti 50 peserta. Materi yang disampaikan sangat lengkap dan praktis, didatangkan langsung pemateri ahli dari tingkat provinsi yang juga membawa peralatan canggih. Para peserta pun mendapatkan fasilitas biji kopi gratis untuk latihan mandiri di rumah serta sertifikat resmi kelulusan.

“Kami menghadirkan narasumber asli dari kalangan barista profesional tingkat provinsi. Mereka bawa alat yang sangat bagus, dan setiap peserta kami berikan biji kopi gratis agar bisa langsung praktik di rumah,” ujar Kusna saat berdiskusi bersama Pokja Wartawan Kota Serang di Ergana Caffe, Kamis (21/5/2026).

Selain sektor kuliner, kerja sama dengan Pemerintah Provinsi Banten juga terjalin dalam program pelatihan perbengkelan. Tahun ini, provinsi mengalokasikan total kuota 40 peserta untuk delapan kabupaten/kota se-Banten, di mana Kota Serang mendapatkan jatah awal sebanyak tiga orang.

“Kami baru saja mengirimkan tiga warga binaan untuk mengikuti pelatihan perbengkelan yang digelar provinsi. Anggaran memang dari provinsi, namun peserta kami yang siapkan. Sebenarnya kami sudah minta tambahan, sekitar lima sampai sepuluh orang, tapi karena harus dibagi rata ke delapan daerah, tahun ini baru dapat tiga kuota. Pengirimannya akan dilakukan bertahap,” jelasnya.

Kusna menegaskan, peserta yang dikirimkan bukanlah hasil dari penertiban atau razia paksa. Melainkan melalui proses penjangkauan dan pendekatan humanis oleh petugas di lapangan. Data diambil langsung dari masyarakat dan jalanan, lalu diajak berdialog dan dirangkul untuk mau dibekali keterampilan. Langkah ini dilakukan agar bantuan tepat sasaran dan berkelanjutan.

“Prinsip kami bukan razia, tapi menjangkau langsung warga. Kami data, ajak bicara baik-baik, lalu tawarkan pelatihan. Kami harus selektif karena ini uang negara yang harus dipertanggungjawabkan. Kami pastikan alat yang diberikan nanti dipakai buka usaha, bukan malah dijual atau hilang,” tegasnya.

Kusna mencontohkan keberhasilan alumni pelatihan sebelumnya, di mana peserta perbengkelan kini usahanya berkembang pesat dan peralatan bantuan masih terawat baik. Bahkan jika ada kekurangan alat penunjang, pihaknya siap kembali memfasilitasi agar usaha warga semakin maju.

Guna memantau perkembangan pasca pelatihan, Dinsos menempatkan Petugas Pendamping Sosial di setiap kecamatan untuk melakukan pemantauan rutin, minimal satu hingga dua kali sebulan, bahkan ada yang seminggu sekali. Hasil pantauan didokumentasikan dan dilaporkan sebagai bahan evaluasi program.

“Saya mungkin tidak bisa turun setiap saat, tapi rekan pendamping sosial di kecamatan rutin ke lapangan seminggu sekali. Mereka pantau, mengobrol, dan kirimkan dokumentasi perkembangan usaha warga binaan kami ke kami. Ini penting agar bantuan yang kami berikan benar-benar bermanfaat dan berjalan terus,” pungkas Kusna.***