Rabu, 22 April 2026

Pesantren Diserang, Tradisi Diuji: Membela Lembaga Penjaga Jiwa Bangsa

- Senin, 20 Oktober 2025

| 19:20 WIB

Jemmy Ibnu Suardi, Pemerhati Pendidikan Islam dan Tradisi Pesantren. (Foto: Dok. Pribadi Jemmy Ibnu Suardi)

Oleh: Jemmy Ibnu Suardi (Pemerhati Pendidikan Islam dan Tradisi Pesantren)

Beberapa waktu terakhir, publik dikejutkan oleh tayangan investigasi salah satu stasiun televisi “Trans7” yang dianggap meremehkan kiai, santri, dan pesantren. Liputan itu menyentak kesadaran banyak orang, tetapi juga menimbulkan luka di hati para santri dan pengasuh yang merasa seluruh dunia pesantren digeneralisasi sebagai lembaga yang gelap dan menakutkan.

Kita sepakat bahwa pelecehan, dan penyimpangan adalah kejahatan yang harus ditindak secara hukum tanpa kompromi. Namun, menyamaratakan kesalahan segelintir oknum dengan menuduh “pesantren bermasalah” adalah kekeliruan moral dan intelektual. Sebab pesantren bukan lembaga politik atau bisnis yang hidup dari citra, ia hidup dari doa, ketulusan, dan cinta ilmu.

Zamakhsyari Dhofier dalam karyanya yang berjudul Tradisi Pesantren: Studi Pandangan Hidup Kyai dan Visinya Mengenai Masa Depan Indonesia menyebut pesantren sebagai fondasi peradaban Islam Nusantara. Dalam pandangan Dhofier, pesantren tidak hanya mengajarkan ilmu agama, tetapi juga membentuk karakter bangsa, kesederhanaan, keikhlasan, kebersamaan, dan penghormatan kepada guru.

Tradisi pesantren telah melahirkan tokoh-tokoh besar yang berpengaruh besar pada kemerdekaan Negara Indonesia, seperti Hadratussyaikh Hasyim Asy‘ari, Syeikh Karim Amrullah, Kiai Wahid Hasyim, K.H. Ahmad Dahlan, Buya Hamka hingga Gus Dur dan K.H Ma’ruf Amin. Dari ruang-ruang kecil pesantrenlah lahir pemimpin yang berjiwa besar, berfikir luas, dan berhati lembut. Pesantren tidak lahir dari proyek negara. Ia tumbuh dari kepercayaan masyarakat kecil, dari hasil sawah yang disumbangkan, dari genteng yang dipasang gotong royong, dari kyai yang mengajar tanpa gaji, dan santri yang belajar tanpa pamrih. Dalam dunia yang serba transaksional, pesantren tetap bertahan dengan modal batin, keikhlasan. Apakah pantas lembaga seagung itu dicurigai hanya karena beberapa oknum menodainya?

Islam mengajarkan nashihah (nasihat) sebagai bentuk kasih sayang, tetapi fitnah adalah kezaliman. Kritik terhadap perilaku menyimpang tentu penting, bahkan pesantren yang sejati justru terbuka terhadap koreksi moral. Namun yang perlu diingat: kritik harus diarahkan untuk memperbaiki, bukan untuk membakar kepercayaan publik Sayangnya, banyak pemberitaan media kini gagal membedakan antara pelaku dan lembaga. Ketika seorang guru di sekolah umum berbuat salah, media menulis “oknum guru”. Tetapi bila seorang ustaz di pesantren bersalah, yang disebut adalah “pesantren melakukan kekerasan.” Logika semacam ini tidak adil dan menciptakan persepsi negatif terhadap ribuan pesantren yang justru mendidik jutaan anak bangsa dengan kasih sayang dan kedisiplinan spiritual. Keadilan publik seharusnya tidak diukur dari pakaian pelaku, tetapi dari nilai kebenaran itu sendiri. Pesantren tidak minta diistimewakan, hanya minta diperlakukan dengan adil.

Media sering menggambarkan kyai sebagai sosok otoriter. Padahal, hubungan antara kyai dan santri bukanlah relasi kekuasaan, tetapi ikatan ruhani yang sangat dalam. Seorang santri ta’dzim kepada kyainya bukan karena takut, tetapi karena tahu bahwa keberkahan ilmu lahir dari adab. Kyai bukan sekadar pengajar, tetapi pembimbing kehidupan. Ia mengajarkan kesabaran, kesederhanaan, dan ketundukan kepada Allah.

Dhofier menjelaskan, dalam tradisi pesantren, ilmu yang tidak disertai adab adalah ilmu yang kehilangan cahaya. Karena itu, pesantren mendidik bukan hanya akal, tetapi juga hati. Mereka menanamkan akhlak, barakah, dan istiqamah, tiga nilai yang menjadi inti kekuatan Islam Nusantara.

Mengapa pesantren tampak lemah di hadapan media? Karena pesantren memang tidak dibangun untuk tampil, tetapi untuk menenangkan. Ia tidak memiliki tim humas, tidak punya buzzer, dan tidak pandai berdiplomasi di ruang digital. Sementara media modern bekerja dengan logika sensasi, “yang baik jarang menarik klik, yang buruk cepat viral”.

Padahal di balik pagar bambu dan asrama sederhana, setiap hari ribuan santri bangun sebelum subuh, membaca Al-Qur’an, menghafal hadis, menanam padi, dan membersihkan masjid. Mereka belajar hidup sederhana, menolong sesama, dan berjuang menjadi manusia berguna. Itulah wajah asli pesantren, wajah yang tidak pernah masuk berita karena terlalu tulus untuk mencari sorotan.

Tentu pesantren bukan lembaga yang sempurna. Ia pun harus berbenah. Banyak kyai kini membuka diri terhadap perubahan, membentuk badan hukum, menerapkan perlindungan santri, hingga mengintegrasikan kurikulum umum. Namun reformasi sejati hanya akan berhasil bila lahir dari kesadaran nilai, bukan tekanan luar.

Negara dan masyarakat perlu mendukung pesantren, bukan menakut-nakutinya. Kritik boleh datang, tapi bimbingan dan dukungan harus berjalan bersamanya. Karena jika reformasi dipaksakan tanpa memahami ruh pesantren, maka yang lahir bukan kemajuan, melainkan kehancuran spiritual. Pesantren harus diperbaiki, bukan dipreteli.

Kekuatan pesantren tidak terletak pada gedung, tetapi pada jiwa keikhlasannya.
Zamakhsyari Dhofier menulis, “Kekuatan pesantren bukan pada kekuasaan politik atau ekonomi, melainkan pada kemampuannya menjaga kejujuran, kesederhanaan, dan keikhlasan.”

Hari ini, nilai-nilai itu sedang diuji. Media boleh menyoroti pesantren, tapi jangan lupa, justru pesantrenlah yang selama ini menyelamatkan bangsa dari kehancuran moral. Ketika elite berselisih soal kekuasaan, pesantren tetap melahirkan guru ngaji, petani saleh, dan pemimpin rendah hati yang menjadi penopang doa negeri ini.

Kita boleh kecewa kepada individu, tapi jangan pernah berhenti percaya kepada pesantren. Karena jika pesantren hancur, yang hilang bukan sekadar lembaga Pendidikan, tapi ruh bangsa Indonesia. Pesantren telah membimbing kita melewati zaman penjajahan, krisis ekonomi, dan perubahan politik. Kini, ia kembali menghadapi ujian zaman digital dan fitnah informasi. Namun selama masih ada kyai yang ikhlas mengajar dan santri yang tulus belajar, pesantren akan tetap menjadi pelita di tengah gelapnya zaman.