Rabu, 22 April 2026

Pesona Tradisi di Tengah Modernisasi: Menjaga Amanah Leluhur di Tanah Kanekes

- Rabu, 22 April 2026

| 12:13 WIB

LEBAK, BANTENPRO.CO.ID — Di balik perbukitan hijau Pegunungan Kendeng, masyarakat Suku Baduy atau Urang Kanekes terus menjalani kehidupan yang kontras dengan hiruk-pikuk modernisasi. Mereka tetap teguh memegang teguh Pikukuh, yakni aturan adat yang mewajibkan setiap warga untuk hidup selaras dengan alam tanpa mengubah tatanan yang telah diwariskan oleh para leluhur.

Kehidupan di wilayah ini secara garis besar terbagi menjadi dua kelompok masyarakat. Kelompok pertama adalah warga yang tinggal di wilayah dalam, yang dikenal dengan ketaatan mutlak terhadap tradisi.

Mereka dicirikan dengan pakaian berwarna putih dan larangan penggunaan alas kaki maupun segala bentuk alat elektronik. Bagi mereka, kemurnian wilayah adalah prioritas utama untuk menjaga keseimbangan dunia.

Sementara itu, warga yang berada di wilayah luar bertindak sebagai pelapis yang melindungi kesucian wilayah dalam. Masyarakat di bagian ini tampil lebih terbuka dengan pakaian berwarna hitam atau biru tua.

Meskipun sudah mulai berinteraksi dengan teknologi dan ekonomi pasar secara terbatas, mereka tetap setia menjalankan nilai-nilai dasar seperti kejujuran dan gotong royong yang menjadi fondasi sosial masyarakat Kanekes.

Salah satu bentuk kearifan lokal yang paling menonjol adalah cara mereka memperlakukan alam. Dalam mengelola lahan, masyarakat Baduy tidak pernah menggunakan alat modern seperti cangkul yang dianggap bisa merusak perut bumi.

Mereka hanya menggunakan tongkat kayu untuk melubangi tanah saat menanam padi di huma. Pola hidup ini terbukti mampu menjaga kelestarian hutan dan ketersediaan sumber air bersih yang melimpah sepanjang tahun.

Setiap tahunnya, keteguhan adat ini juga ditunjukkan melalui tradisi Seba. Ribuan warga akan berjalan kaki melintasi perbatasan desa menuju pusat pemerintahan untuk bersilaturahmi dengan pemimpin daerah.

Tradisi ini merupakan momen sakral di mana mereka melaporkan kondisi alam, menyerahkan hasil panen sebagai bentuk syukur, sekaligus mengingatkan pemerintah untuk terus menjaga kelestarian lingkungan demi keberlangsungan hidup anak cucu di masa depan.***