Sabtu, 23 Mei 2026

Drainase Mampet, Kawasan Kesultanan Banten Sempat Tergenang Air Setinggi 30 Cm

- Sabtu, 3 Januari 2026

| 15:22 WIB

SERANG, BANTENPRO.CO.ID – Intensitas hujan tinggi disertai angin kencang yang mengguyur wilayah Kota Serang menyebabkan area pemakaman dan wisata religi Kesultanan Maulana Hasanuddin Banten sempat tergenang air, Sabtu (3/1/2026).

Sekretaris Badan Kenadziran Kesultanan Maulana Hasanuddin Banten (BKKMHB), TB Imam Mahdi Sya, mengungkapkan bahwa air mulai masuk ke area tersebut sejak Jumat petang sekitar pukul 18.00 WIB. Ketinggian air dilaporkan mencapai 30 sentimeter.

“Curah hujan malam itu memang sangat lebat ditambah angin kencang. Penyebab utamanya adalah drainase yang mampet dan berkurangnya area resapan air. Dulu area ini masih tanah, sekarang sudah tertutup marmer dan keramik, sehingga penyerapan air terganggu,” ujar TB Imam Mahdi saat dikonfirmasi.

Pihak pengurus BKKMHB bersama petugas terkait langsung bergerak cepat melakukan aksi “jebol” genangan dengan mendorong air ke saluran pembuangan serta membersihkan selokan dari sumbatan sampah. Pemerintah setempat juga telah menyiagakan mesin pompa penyedot air di akses jalan masuk untuk mempercepat pengeringan.

Meskipun area bawah sempat terendam, TB Imam memastikan makam utama Sultan tidak terdampak.

“Area makam Sultan posisinya tinggi, jadi aman dan jauh dari jangkauan air. Hanya area bawah saja yang terdalam. Tadi malam pun sebenarnya sudah sempat surut, namun pagi ini hujan turun lagi sehingga kami tetap waspada,” tambahnya.

Meski sempat terkendala genangan air, aktivitas ziarah di Kawasan Banten Lama terpantau tetap normal dan stabil. Hal ini dikarenakan saat ini bertepatan dengan momentum bulan Rajab, di mana kunjungan peziarah biasanya mengalami peningkatan signifikan.

“Alhamdulillah, jumlah kunjungan tidak berpengaruh. Saat ini masuk bulan Rajab, memang sedang ramai-ramainya. Dalam satu minggu terakhir, tercatat sekitar 10.000 peziarah datang, baik dari wilayah Banten maupun luar provinsi,” jelasnya.

Ia berharap perbaikan sistem drainase menjadi prioritas utama agar kejadian serupa tidak terulang, mengingat pembangunan fisik di kawasan tersebut sudah berjalan matang selama lima tahun terakhir.***

2