Minggu, 3 Mei 2026

Menenun Harapan di Le Semar; Ikhtiar Epistemologis Menuju Puncak Khidmat

- Minggu, 3 Mei 2026

| 21:14 WIB

Ocit Abdurrosyid SiddiqPimpinan Sidang Muktamar XXI Mathla’ul Anwar

Pertemuan di Hotel Le Semar, Kota Serang, hari ini bukan sekadar sebuah rutinitas organisasional dalam menyusun daftar nama. Bagi saya, momen ini adalah sebuah perjumpaan batin yang sangat mendalam di antara sembilan unsur Tim Formatur PB. Mathla’ul Anwar.

Di dalam ruangan itu, udara seolah dipenuhi oleh frekuensi yang sama, sebuah resonansi kolektif untuk membawa organisasi ini melampaui batas-batas pencapaian konvensionalnya. Sebagai alumni Aqidah Filsafat, saya melihat fenomena ini sebagai manifestasi dari kesatuan kehendak yang dalam istilah filosofis sering disebut sebagai general will untuk sebuah kemaslahatan bersama.

Suasana rapat berlangsung dengan sangat tenang, jauh dari hiruk-pukuk kepentingan pragmatis yang biasanya mewarnai panggung-panggung perebutan kekuasaan formal. Tidak ada suara tinggi, tidak ada interupsi yang memutus alur, dan yang paling istimewa adalah ketiadaan mekanisme voting dalam setiap pengambilan keputusan strategis.

Semua berjalan melalui mekanisme musyawarah yang sangat elegan, di mana setiap usulan nama dari Ketua Umum Terpilih, KH. Dr. Jazuli Juwaini, disambut dengan anggukan takzim. Kehadiran KH. Embay Mulya Syarif di samping beliau memberikan keteduhan spiritual yang luar biasa, seolah menegaskan bahwa struktur yang sedang dibangun ini memiliki restu langit dan bumi.

Dalam kapasitas saya sebagai pimpinan sidang Muktamar yang dihadirkan untuk memberikan penjelasan konteks AD/ART, saya merasakan betapa hukum organisasi tidak lagi dirasakan sebagai sekat yang kaku. Aturan-aturan tersebut justru menjadi rel yang memastikan kereta besar Mathla’ul Anwar tetap melaju kencang tanpa harus keluar dari jalur konstitusional yang telah ditetapkan para pendahulu.

Saya melihat bagaimana setiap butiran pasal diterjemahkan menjadi tindakan nyata dalam penempatan personil pada posisi Ketua Majelis Penasehat, Majelis Fatwa, hingga tujuh Wakil Ketua Umum. Semuanya diletakkan berdasarkan spesialisasi bidang masing-masing, sebuah langkah metodologis yang sangat presisi untuk menjamin efektivitas gerak organisasi di masa depan.

Dalam dialektika Binuangeun, suasana kebatinan yang harmonis seperti ini sering kali disebut sebagai kondisi ngahiji sakasur, sakasur, sakasur, sebuah perumpamaan tentang kemanunggalan pikiran dan perasaan. Kita tidak ingin kepengurusan ini hanya menjadi barisan nama yang mideudeul atau statis dalam lembaran surat keputusan yang dingin dan kaku.

Sebagai Ketua Komunitas Kamus Sunda Banten, saya memaknai keheningan yang produktif dalam rapat ini sebagai proses ngageuing atau membangkitkan kesadaran kolektif untuk segera berakselerasi. Struktur pimpinan yang ramping namun fungsional ini adalah modal utama untuk melakukan transformasi besar agar Mathla’ul Anwar benar-benar bisa naik level secara nyata dan signifikan.

Optimisme yang membuncah hari ini bukan sekadar harapan kosong tanpa dasar, melainkan sebuah keyakinan objektif bahwa Mathla’ul Anwar bisa menjadi ormas Islam ketiga terbesar di Indonesia. Target ini bukan lagi sebuah klaim sepihak yang bersifat emosional, melainkan sebuah keniscayaan sosiologis jika melihat soliditas kepemimpinan dan jejaring pendidikan yang kita miliki saat ini.

Dengan jargon Bangkit, Berdaya, dan Berpengaruh, kita sedang mengirimkan pesan kuat kepada publik bahwa ormas ini siap mengambil peran lebih strategis dalam panggung nasional. Kita harus ngagalantang menyuarakan kebenaran dan menebar manfaat, agar eksistensi Mathla’ul Anwar dirasakan sebagai oase bagi umat dari ujung Barat hingga ujung Timur Nusantara.

Saya merasa bahwa apa yang diputuskan di Hotel Le Semar hari ini adalah benih-benih peradaban yang sedang kita tanam dengan penuh rasa cinta. Proses formatur yang penuh kekeluargaan ini adalah fondasi yang sangat kokoh untuk membangun bangunan pengabdian yang megah dan tahan terhadap segala guncangan zaman.

Kita harus terus ngaji rasa dan menjaga kekompakan ini agar energi yang dihasilkan tidak habis untuk konflik internal, melainkan fokus untuk pemberdayaan masyarakat luas. Semoga Allah SWT meridai ikhtiar kita untuk membawa Mathla’ul Anwar menuju puncak kejayaannya, menjadi organisasi yang tidak hanya besar secara kuantitas, tetapi juga unggul secara kualitas. Aamiin.***