Selasa, 20 Oktober 2026

Kekeringan Ancam Ketahanan Pangan, Pemkot Serang Siapkan Tiga Strategi Tekan Inflasi

- Senin, 24 Agustus 2026

| 16:39 WIB

Wakil Walikota Serang Nur Agis Aulia

SERANG, BANTENPRO.CO.ID — Ancaman kekeringan dan cuaca ekstrem yang semakin tidak menentu mulai menjadi perhatian serius Pemerintah Kota (Pemkot) Serang. Kondisi tersebut dinilai berpotensi mengganggu produksi pertanian, mempersempit pasokan bahan pangan, hingga mendorong kenaikan harga kebutuhan pokok di pasaran.

Untuk mengantisipasi dampak tersebut, Pemkot Serang melalui Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) menyiapkan tiga strategi utama untuk menjaga ketahanan pangan sekaligus mengendalikan inflasi, mulai dari penguatan rantai pasok, adaptasi sektor pertanian, hingga intervensi pasar berbasis data.

Wakil Wali Kota Serang, Nur Agis Aulia, mengatakan perubahan iklim tidak lagi dapat dipandang sebagai persoalan jangka panjang. Menurutnya, gangguan terhadap sektor pertanian dapat dengan cepat berdampak terhadap ketersediaan dan harga pangan yang akhirnya dirasakan langsung masyarakat.

“Dampak kekeringan sudah mulai dirasakan di wilayah Kota Serang dan sekitarnya. Imbas terbesarnya ada di sektor pertanian, di mana pola tanam menjadi berantakan dan risiko gagal panen meningkat pesat. Ini ancaman serius bagi ketersediaan bahan pokok kita,” kata Agis, Minggu (23/8/2026).

Ia menjelaskan, penurunan hasil panen berpotensi mengurangi pasokan komoditas pangan di pasar. Jika tidak diantisipasi, kondisi tersebut dapat memicu kenaikan harga karena permintaan masyarakat tidak sebanding dengan ketersediaan barang.

Situasi itu, kata Agis, berpotensi memberikan tekanan lebih besar terhadap masyarakat berpenghasilan rendah karena kenaikan harga bahan pokok akan berpengaruh langsung terhadap daya beli.

Untuk mencegah kondisi tersebut berkembang menjadi gejolak harga, TPID Kota Serang menyiapkan tiga langkah strategis.

Pertama, memperkuat ekosistem pangan terintegrasi.

Strategi ini dilakukan dengan memangkas berbagai hambatan dalam rantai pasok lokal, mengoptimalkan lumbung penyimpanan pangan daerah, serta memperluas Kerja Sama Antar Daerah (KAD) dengan wilayah penghasil atau sentra produksi pangan.

“Target utamanya adalah memastikan distribusi dari petani hingga pasar tradisional berjalan tanpa kendala logistik,” ujarnya.

Dengan penguatan rantai pasok tersebut, Pemkot Serang berharap pasokan komoditas tetap terjaga meskipun produksi di sejumlah wilayah mengalami tekanan akibat kondisi cuaca.

Kedua, memperkuat mitigasi pertanian adaptif terhadap perubahan iklim.

Pemkot Serang akan mendorong Dinas Pertanian untuk meningkatkan pendampingan kepada para petani. Langkah tersebut diarahkan agar petani dapat menyesuaikan pola produksi dengan kondisi iklim yang semakin sulit diprediksi.

“Fokusnya mencakup modernisasi sistem irigasi, penerapan teknologi tani tahan iklim, hingga penyediaan varietas bibit unggul yang tahan terhadap kondisi kekeringan ekstrem,” jelas Agis.

Menurutnya, upaya adaptasi tersebut penting dilakukan bukan hanya untuk menghadapi kekeringan saat ini, tetapi juga sebagai langkah jangka panjang dalam menjaga produktivitas pertanian daerah.

Ketiga, melakukan intervensi pasar berbasis data real-time.

Pemkot Serang akan memperkuat pemantauan harga bahan pokok secara harian melalui sistem digital. Data tersebut digunakan untuk mendeteksi potensi kenaikan harga sedini mungkin sehingga pemerintah dapat mengambil tindakan sebelum lonjakan harga semakin tinggi.

“Jika grafik harga mulai naik, Pemkot segera menyerap Cadangan Pangan Pemerintah Daerah (CPPD) serta menggelar Operasi Pasar Murah (OPM) dan Gerakan Pangan Murah (GPM) secara presisi,” ungkapnya.

Agis menegaskan, tiga strategi tersebut diharapkan mampu menjaga keseimbangan antara ketersediaan pasokan dan kebutuhan masyarakat. Pemkot Serang juga akan terus melakukan pemantauan terhadap perkembangan produksi pertanian, distribusi pangan, serta pergerakan harga komoditas strategis.

Langkah antisipatif tersebut menjadi penting agar ancaman kekeringan tidak berkembang menjadi persoalan ketahanan pangan dan inflasi yang berdampak lebih luas terhadap masyarakat Kota Serang.***

2