BANTENPRO.CO.ID – Performa Timnas Indonesia U-23 sepanjang babak penyisihan grup Piala AFF U-23 2025 menuai banyak pujian, termasuk dari mantan pelatih Timnas Indonesia, Rahmad Darmawan (RD).
Mengikuti seluruh pertandingan Garuda Muda, RD melihat adanya perkembangan signifikan dan keberanian dalam pendekatan taktik pelatih Gerald Vanenburg
“Saya ikuti pertandingan pertama lawan Brunei, kemudian Filipina, dan kebetulan lawan Malaysia juga menonton. Saya melihat satu permainan yang terus berproses baik,” ujar Rahmad Darmawan dikutip dari kanal youtube TvOne, Selasa 29 Juli 2025.
“Memang ada penurunan kualitas ketika melawan Filipina, tapi kemudian bisa terbayar ketika lawan Malaysia, dan puncaknya kemarin lawan Thailand, kita bermain jauh lebih baik,” sambungnya.
Menurut RD, Timnas Indonesia U-23 menunjukkan perkembangan pesat dan mampu mengaplikasikan tactical game plan serta filosofi bermain yang diinginkan pelatih Gerald Vanenburg.
“Ini sesuatu yang menggembirakan, tidak saja buat saya sebagai pelatih, tapi juga pemirsa, karena permainan yang diperlihatkan Garuda Muda menunjukkan bahwa mereka tidak hanya membuat banyak peluang, tapi juga bermain sangat atraktif, menyerang, dan penuh dengan konfidensi tinggi,” katanya.
Salah satu poin yang paling disoroti RD adalah dominasi penguasaan bola Timnas Indonesia atas Thailand, yang mencapai 71% berbanding 29%. “Ini pertama kali menurut saya, kepercayaan yang begitu tinggi diperlihatkan oleh para pemain dengan strategi bermain dari Gerald Vanenburg. Ini sesuatu yang baru, sesuatu yang luar biasa,” tuturnya.
Meski demikian, Rahmad Darmawan mengingatkan bahwa setiap strategi menyerang memiliki risiko, terutama terkait fase transisi dan kondisi fisik pemain. “Patut diingat bahwa memang di setiap strategi bermain tentu akan ada risiko-risiko yang harus ditanggung,” jelasnya.
RD mencontohkan, penurunan kualitas fisik pemain di babak kedua saat melawan Thailand menjadi perhatian. “Praktis justru kemarin Thailand yang punya peluang membahayakan di 15 menit babak kedua karena memang mereka lebih bugar, apalagi ketika skor 1-1 mereka mencoba untuk terus memberikan serangan balik kepada tim kita,” tuturnya.
Strategi menyerang ala Gerald Vanenburg menuntut energi lebih saat melakukan pressing ketika kehilangan bola. “Ketika pemain kita menyerang dan kehilangan bola di depan, tentu yang paling efektif untuk menahan serangan balik lawan yang cepat adalah dengan kembali melakukan press terhadap lawan. Dan ketika melakukan organisasi pressing ini pasti butuh satu energi yang lebih,” papar RD.
Namun, Rahmad Darmawan juga memuji kecerdikan Gerald Vanenburg dalam mencari solusi saat tim mengalami kebuntuan. “Untungnya ada satu kelebihan yang juga diperlihatkan Gerald Vanenburg, di mana ketika kita tertinggal 1-0 ada satu strategi bermain yang mungkin di luar tactical game plan,” ucapnya.
RD menyoroti keputusan Gerald Vanenburg memasukkan pemain belakang seperti Ferrari untuk bermain di posisi yang lebih menyerang sebagai solusi deadlock. “Solusi yang diberikan adalah membuat serangan dari permainan wingplay. Tentu kita butuh orang-orang yang punya kemampuan heading bagus dan itu biasanya dimiliki oleh pemain belakang yang punya postur lebih tinggi. Makanya kemudian di-settinglah Ferrari masuk, Sonemen masuk, tidak main di belakang, tapi mereka main Sonemen di gelandang, kemudian Ferrari main di depan. Ini sesuatu yang menarik buat saya,” tuturnya.***













