SERANG, BANTENPRO – Sebanyak 120 perwakilan siswa-siswi dari Sanggar Kegiatan Belajar (SKB) dan Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) se-Kota Serang resmi dilepas dalam acara Pelepasan Siswa-Siswi PKBM Tahun Ajaran 2025/2026.
Bertempat di Gedung PWM Muhammadiyah, Cipocok Jaya, Jumat (19/6/2026), ajang ini menjadi pembuktian bahwa lulusan pendidikan kesetaraan mampu bersaing di berbagai lini.
Kegiatan yang diinisiasi oleh Forum Komunikasi (FK) PKBM Kota Serang ini dihadiri oleh Sekretaris Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dindikbud) Kota Serang, Tb Agus Suryadin, didampingi Kabid PAUDNI, Ati Rohayati.
Ketua FK PKBM Kota Serang, Jafarudin, menyatakan bahwa gelaran ini merupakan kali kedua diselenggarakan untuk mempererat silaturahmi sekaligus memotivasi 43 PKBM yang ada di Kota Serang.
“Kami ingin menumbuhkan rasa percaya diri bagi seluruh lulusan Paket A, Paket B, dan Paket C. Slogan kami jelas: siap kuliah, siap kerja, siap wirausaha, bahkan siap berkarya di industri film,” ujar Jafarudin.
Senada dengan hal tersebut, Sekretaris Dindikbud Kota Serang, Tb Agus Suryadin, menekankan pentingnya sinergi berkelanjutan antara pengelola PKBM dengan pemerintah daerah maupun pusat.
“Agar pendidikan kesetaraan terus berkembang, koordinasi dengan Dindikbud dan Kemendikbud harus terus dijaga. Apalagi anggaran pendidikan kesetaraan ini mendapat dukungan langsung dari pusat,” tegasnya.
Selain dibekali kompetensi akademik dan life skill, lulusan PKBM di Kota Serang kini mulai unjuk gigi di industri kreatif. Melalui kolaborasi dengan Sanggar Film Anak Serang (FANS), potensi para siswa berhasil mencuri perhatian di kancah perfilman daerah.
Dua PKBM menjadi motor penggerak prestasi ini. PKBM Ummatan Wasathon asal Kasemen sukses menyabet gelar Sutradara Terbaik dalam Festival Film Banten (FFBan) 2024 lewat film pendek berjudul “Titik Balik”.
Prestasi tersebut berlanjut pada 2025, di mana PKBM Insan Madani dari Taktakan berhasil membawa pulang penghargaan Skenario Terbaik di ajang FFBan melalui film pendek bertema pendekar pencak silat berjudul “Lelaki”.
Capaian ini menjadi bukti nyata bahwa pendidikan kesetaraan bukan sekadar opsi pendidikan formal, melainkan wadah pengembangan talenta yang mampu menembus batas industri kreatif.***














