Kamis, 11 Juni 2026

Mengalir dari Tanah Jawara: 80 Tahun Bhayangkara Menjaga Asa di Kampung Jerakah

- Kamis, 11 Juni 2026

| 13:13 WIB

Foto ilustrator polisi dekat dan melindungi lingkungan masyarakat

SERANG, BANTENPRO.CO.ID – Riuh rendah suara anak-anak mengaji lamat-lamat terdengar dari sebuah musala kecil di Kampung Jerakah, Kelurahan Kiram, Banten. Di sudut kampung yang dikenal subur namun sederhana ini, angin sore berembus tenang. Kenyamanan inilah yang paling disyukuri oleh warga setempat—sebuah kedamaian yang tidak datang begitu saja, melainkan buah dari jalinan kasih antara masyarakat dan para penegak hukum.

Memasuki delapan dekade pengabdiannya, posisi kian meneguhkan posisinya bukan sekadar sebagai penjaga keamanan, melainkan sebagai bagian dari keluarga masyarakat. Semangat bertajuk “Dari Tanah Jawara untuk Indonesia: 80 Tahun Bhayangkara Mengabdi” bukan sekadar slogan usang di spanduk protokol, melainkan napas yang nyata dirasakan hingga ke pelosok kampung.

Bagi warga Kampung Jerakah, Kelurahan Warung Jaud, Kecamatan Kasemen, Kota Serang sosok polisi kini tak lagi identik dengan kesan kaku atau menakutkan. Pendekatan humanis yang diusung Polri benar-benar menyentuh akar rumput.

Ketua RT Kampung Jerakah, Syafiudin (45), saat ditemui di kediamannya, membagikan ceritanya dengan mata yang berbinar. Ia mengenang bagaimana wilayahnya kini jauh lebih kondusif berkat kehadiran bhabinkamtibmas yang aktif merangkul warga.

“Dulu, kalau lihat seragam cokelat masuk kampung, warga pasti mikirnya ada kasus atau ada masalah besar. Sekarang? Malah sebaliknya. Pak Polisi datang buat ngopi bareng, nanya kabar, bahkan ikut kerja bakti benerin selokan,” ujar pria yang angkrab di panggil RT Kombeh sambil tersenyum hangat.

Ia menambahkan bahwa komunikasi dua arah yang dibangun kepolisian membuat warga merasa memiliki pelindung yang dekat. Program-program dialogis dan patroli dialogis yang humanis dinilai sukses mengubah paradigma lama.

Banten, yang tersohor sebagai “Tanah Jawara”, memiliki karakteristik masyarakat yang tegas, religius, sekaligus sarat budaya. Menurut Syafiudin, menyatukan nilai-nilai lokal kesatriaan (jawara) dengan tugas kepolisian adalah kunci mengapa Kamtibmas di wilayahnya berjalan sangat harmonis.

Sinergi budaya Polisi di Tanah Jawara mampu memposisikan diri sebagai mitra para tokoh agama dan sesepuh adat.

Penyelesaian humanis, banyak persoalan kecil warga yang diselesaikan melalui musyawarah (restorative justice) di tingkat RT, didampingi oleh petugas.

Pengayoman tanpa batas, dari edukasi bahaya narkoba remaja hingga bantuan sosial saat paceklik, kehadiran Polri dirasakan langsung.

“Ulang tahun ke-80 ini usia yang sangat matang. Harapan kami sebagai warga kecil di Kampung Jerakah, semoga Polri terus mempertahankan wajahnya yang ramah. Dari Tanah Jawara ini, kami melihat bukti bahwa ketika polisi dan rakyat menyatu, Indonesia akan selalu aman dan damai,” jelas Syafiudin di akhir perbincangan.

Lentera di sudut-sudut Kampung Jerakah mulai menyala seiring matahari yang terbenam. Di usia yang ke-80 tahun, Bhayangkara telah membuktikan bahwa pengabdian terbaik adalah yang mengalir dengan ketulusan menjaga senyum warga tetap merekah, dari Tanah Jawara untuk kedamaian Indonesia.***

2