Sabtu, 6 Juni 2026

Teras Rakyat Dorong Banten Susun City Branding Jangka Panjang untuk Dongkrak PAD

- Sabtu, 6 Juni 2026

| 00:26 WIB

SERANG, BANTENPRO.CO.ID – Banyak daerah di Indonesia memiliki sumber daya melimpah, destinasi wisata menarik, hingga posisi geografis strategis. Namun, tidak sedikit yang gagal berkembang secara optimal karena tidak memiliki identitas yang kuat di mata publik maupun investor.

Fenomena tersebut menjadi pembahasan utama dalam diskusi publik Teras Rakyat bertajuk “City Branding: Instrumen untuk Meningkatkan PAD. Bisakah?” yang digelar di Gedung FSPP Banten, Kota Serang, Kamis (4/6/2026). Diskusi ini menghadirkan Peneliti Kicklose Research Center Ahmad Ufuwan, Dosen Universitas Pamulang MN Fahruqi, dan jurnalis senior BW Iskandar.

Peneliti Kicklose Research Center, Ahmad Ufuwan, menegaskan bahwa City branding tidak boleh berhenti sekadar pada pembuatan slogan atau logo daerah. Lebih dari itu, strategi ini harus mampu membangun persepsi publik terhadap identitas dan keunggulan wilayah.

Menurut Ufuwan, banyak daerah gagal berkembang bukan karena miskin potensi, melainkan karena tidak memiliki narasi besar yang mampu menyatukan berbagai keunggulan tersebut.

“Banyak daerah memiliki terlalu banyak potensi yang ingin dipromosikan sekaligus, sehingga tidak ada satu pun yang benar-benar melekat di benak masyarakat. Akibatnya, daerah tersebut sulit dibedakan dengan daerah lain,” ujar Ufuwan.

Ia menilai Provinsi Banten memiliki sejumlah keunggulan strategis yang dapat menjadi fondasi city branding. Mulai dari sejarah Kesultanan Banten, kawasan industri nasional, posisi sebagai gerbang Jawa-Sumatera, hingga potensi wisata bahari dan pendidikan Islam.

Banten, lanjutnya, perlu menentukan identitas utama yang dapat menjadi arah pembangunan jangka panjang.

“Branding yang kuat akan memudahkan daerah menarik investasi, wisatawan, talenta, dan berbagai peluang ekonomi yang pada akhirnya berdampak pada peningkatan Pendapatan Asli Daerah (PAD),” tambahnya.

Di tempat yang sama, Dosen Universitas Pamulang, MN Fahruqi, menekankan pentingnya keterlibatan masyarakat dalam proses penyusunan city branding. Menurutnya, identitas daerah yang hanya disusun oleh pemerintah tanpa melibatkan publik umumnya tidak bertahan lama.

“City branding harus menjadi identitas kolektif yang lahir dari kesepakatan bersama. Pemerintah, akademisi, pelaku usaha, komunitas, media, dan masyarakat harus dilibatkan sejak awal,” kata Fahruqi.
Ia menjelaskan, penyusunan city branding yang ideal harus diawali dengan, Audit identitas daerah, Pemetaan keunggulan kompetitif, Survei persepsi publik, Diskusi lintas sektor untuk menyusun narasi besar pembangunan.

Sementara itu, jurnalis BW Iskandar menyoroti pentingnya peran media digital dalam membangun citra daerah di era modern. Saat ini, persepsi publik lebih banyak dibentuk melalui media sosial dan konten kreatif dibanding media promosi konvensional.

“Orang datang ke sebuah kota bukan karena membaca angka statistik. Mereka datang karena tertarik pada cerita yang dibangun dan disebarkan secara konsisten,” tutur BW Iskandar.

Ia pun mendorong Pemerintah Provinsi Banten untuk segera membangun ekosistem promosi digital yang melibatkan media, influencer, komunitas, serta masyarakat luas.

Melalui diskusi Teras Rakyat ini, para narasumber sepakat bahwa city branding harus ditempatkan sebagai instrumen pembangunan strategis, bukan sekadar kegiatan promosi seremonial. Dengan identitas yang kuat, Banten berpeluang besar meningkatkan daya saing, menarik investasi, dan mendongkrak PAD secara berkelanjutan.***

2