Sabtu, 6 Juni 2026

Diaspora Banten di Kupang: Jejak Perjuangan dan Dakwah di Masjid Agung Al-Baitul Qadim

- Sabtu, 6 Juni 2026

| 10:40 WIB

Dr. H. Fadlullah, S.Ag., M.Si.
Ketua Presidium FSPP Provinsi Banten

Pada Jumat, 5 Juni 2026, saya berkesempatan menunaikan salat berjamaah di Masjid Agung Al-Baitul Qadim di Kota Kupang, Nusa Tenggara Timur. Masjid yang mulai dibangun pada tahun 1806 dan selesai pada tahun 1812 ini dikenal sebagai masjid tertua di Pulau Timor. Berdiri di kawasan Airmata, Kota Lama Kupang, masjid tersebut bukan sekadar tempat ibadah, melainkan penanda perjalanan panjang Islam, perdagangan maritim, kolonialisme, dan kerukunan sosial di kawasan timur Nusantara.

Sejarah Islam di Kupang tidak dapat dipisahkan dari posisi strategis Timor dalam jalur perdagangan maritim Nusantara. Sejak berabad-abad lalu, kapal-kapal dagang dari Malaka, Makassar, Ternate, Jawa, Solor, dan berbagai wilayah lainnya singgah di kawasan ini. Perdagangan cendana, hasil laut, dan komoditas lainnya menjadikan Kupang sebagai salah satu simpul penting dalam jaringan ekonomi kawasan timur Indonesia.

Pada abad ke-16 dan ke-17, Timor dan wilayah sekitarnya menjadi arena persaingan antara Portugis dan Belanda. Portugis berupaya menguasai perdagangan sekaligus memperluas pengaruh politik dan keagamaannya. Di sisi lain, sejumlah kerajaan dan komunitas Muslim yang telah terhubung dengan jaringan perdagangan Islam Nusantara berusaha mempertahankan ruang hidup dan kepentingan ekonominya di kawasan tersebut.

Dalam dinamika itu, sebagian komunitas Muslim di Solor dan wilayah sekitarnya menjalin kerja sama dengan VOC Belanda untuk menghadapi dominasi Portugis. Hubungan tersebut lebih bersifat politik dan ekonomi daripada ideologis. Dari proses itulah lahir perpindahan penduduk, terbentuk jaringan perdagangan baru, dan berkembang komunitas-komunitas Muslim yang kemudian menjadi bagian penting dari sejarah Kupang.

Migrasi para pedagang, ulama, pelaut, dan keluarga Muslim dari Solor, Alor, Ende, serta wilayah sekitarnya turut membentuk wajah Kota Kupang. Mereka membangun permukiman, menggerakkan perdagangan, dan mengembangkan kehidupan keagamaan. Kehadiran mereka menjadi fondasi lahirnya komunitas Muslim yang kuat sekaligus memperkaya keragaman sosial dan budaya di Timor.

Pemilihan lokasi Masjid Agung Al-Baitul Qadim menunjukkan visi jauh ke depan para perintis Islam di kawasan ini. Masjid didirikan di dekat pusat aktivitas perdagangan, pelabuhan, dan permukiman yang terhubung dengan pesisir Teluk Kupang. Dalam tradisi kota-kota Islam Nusantara, masjid, pasar, dan pelabuhan merupakan satu kesatuan yang menopang lahirnya peradaban. Karena itu, masjid tidak hanya berfungsi sebagai tempat ibadah, tetapi juga sebagai pusat pendidikan, musyawarah, penguatan ekonomi, dan pembinaan masyarakat.

Tokoh yang dikenal memprakarsai pembangunan masjid ini adalah Sya’ban bin Sanga dari lingkungan Kesultanan Mananga di Pulau Solor. Bersama masyarakat Muslim setempat, ia memulai pembangunan pada tahun 1806 hingga selesai enam tahun kemudian. Sejak saat itu, Al-Baitul Qadim menjadi pusat kegiatan keagamaan sekaligus simbol keberadaan komunitas Muslim di Pulau Timor.

Nama Al-Baitul Qadim memiliki makna yang menarik. Dalam bahasa Arab, al-bait berarti rumah, sedangkan al-qadim berarti yang tua, awal, atau terdahulu. Penamaan ini dapat dipahami sebagai simbol “rumah pertama” umat Islam di Kupang, tempat berlabuhnya harapan, ilmu, persaudaraan, dan syiar Islam bagi generasi-generasi awal Muslim di Pulau Timor. Karena itu, Al-Baitul Qadim bukan hanya bangunan bersejarah, melainkan penanda lahirnya sebuah komunitas dan peradaban.

Menariknya, sejarah pembangunan masjid ini juga mencerminkan kuatnya semangat kebersamaan. Tanah tempat masjid berdiri merupakan hibah dari Raja Taebenu, sementara proses pembangunannya melibatkan berbagai unsur masyarakat yang hidup berdampingan. Karena itu, Al-Baitul Qadim tidak hanya menjadi simbol keislaman, tetapi juga simbol toleransi dan persaudaraan yang telah tumbuh lama di Kupang.

Nilai keterbukaan tersebut tercermin pula pada arsitektur masjid. Bentuk atap bertumpang bergaya tajug menunjukkan pengaruh tradisi masjid Jawa, sementara sejumlah unsur lokal Timor hadir dalam detail bangunannya. Perpaduan itu memperlihatkan bahwa Islam berkembang melalui proses dialog budaya yang damai, tanpa kehilangan identitas dasarnya.

Seiring berjalannya waktu, relasi sebagian komunitas Muslim dengan Belanda mengalami perubahan. Jika pada masa sebelumnya terdapat kerja sama taktis untuk menghadapi Portugis, maka ketika Belanda semakin mengukuhkan diri sebagai penguasa kolonial, hubungan tersebut berubah. Belanda tidak lagi dipandang sebagai sekutu sementara, melainkan sebagai kekuatan kolonial yang mengendalikan kehidupan politik dan ekonomi masyarakat setempat.

Perubahan situasi itulah yang menjadi latar penting kedatangan Kyai Haji Mas Muhammad Arsyad bin As’ad al-Bantani atau Kyai Arsyad Thawil ke Kupang pada akhir abad ke-19. Ulama asal Tanara, Banten, ini datang sebagai tahanan politik setelah terlibat dalam Geger Cilegon tahun 1888. Berbeda dengan para pendatang sebelumnya yang datang melalui jalur perdagangan atau migrasi, Kyai Arsyad membawa pengalaman langsung dalam perjuangan melawan kolonialisme Belanda.

Melalui dakwah, pendidikan, dan pembinaan umat, Kyai Arsyad memperkenalkan semangat baru kepada masyarakat Muslim Kupang. Jika generasi sebelumnya pernah menjalin hubungan pragmatis dengan Belanda dalam menghadapi Portugis, maka Kyai Arsyad hadir sebagai simbol perlawanan terhadap kolonialisme. Ia menanamkan kesadaran bahwa menjaga agama tidak dapat dipisahkan dari upaya menegakkan keadilan, martabat, dan kemerdekaan manusia dari penindasan.

Jika Sya’ban bin Sanga dikenang sebagai perintis pembangunan Masjid Agung Al-Baitul Qadim, maka Kyai Arsyad Thawil layak dikenang sebagai tokoh yang memperkuat ruh perjuangan umat Islam di Timor. Keduanya hidup pada zaman yang berbeda, tetapi sama-sama memberi kontribusi besar dalam perjalanan Islam di Kupang: yang satu membangun fondasi kelembagaan, yang lain memperkuat kesadaran perjuangan.

Hingga hari ini, Masjid Agung Al-Baitul Qadim tetap berdiri sebagai monumen hidup yang menyimpan jejak perdagangan maritim Nusantara, migrasi komunitas Muslim, dinamika kolonialisme, warisan toleransi, dan semangat perjuangan. Dari pesisir Teluk Kupang hingga Tanara di Banten, terbentang benang merah sejarah yang mengajarkan bahwa dakwah, perdagangan, persaudaraan, dan perjuangan dapat berjalan beriringan dalam membangun peradaban Indonesia. Masjid tua ini menjadi pengingat bahwa kemajuan sebuah masyarakat tidak hanya ditopang oleh kekuatan ekonomi dan politik, tetapi juga oleh nilai-nilai keimanan, kebersamaan, dan penghormatan terhadap sesama. Wallahu a’lam. ***

2