Kamis, 29 Oktober 2026

FKIP UNTIRTA– FMIPA ITB Jajaki Kerja Sama Penguatan Sains dan Pendidikan

- Kamis, 20 Agustus 2026

| 09:55 WIB

FKIP Universitas Sultan Ageng Tirtayasa (UNTIRTA) dan Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Institut Teknologi Bandung (FMIPA ITB)

SERANG, BANTENPRO.CO.ID – FKIP Universitas Sultan Ageng Tirtayasa (UNTIRTA) dan Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Institut Teknologi Bandung (FMIPA ITB) menjajaki kerja sama strategis dalam penguatan pendidikan, riset, dan pengembangan sumber daya manusia bidang ssains

Dalam pertemuan tersebut, Dekan FKIP UNTIRTA Dr. H. Fadlullah, S.Ag., M.Si. beserta rombongan diterima Dekan FMIPA ITB Aep Patah, Ph.D. Pertemuan ini mempertemukan kekuatan pendidikan dan pedagogi FKIP UNTIRTA dengan kepakaran sains FMIPA ITB untuk membangun ekosistem sains yang terhubung dari perguruan tinggi hingga satuan pendidikan.

Salah satu agenda utama ialah peluang studi lanjut S2 melalui skema Jalur Kerja Sama Sarjana Magister (JKSM). Melalui skema ini, mahasiswa sarjana yang memenuhi persyaratan dapat mengambil mata kuliah tertentu pada program magister melalui tahap credit earning sebelum menyelesaikan studi S1, kemudian capaian pembelajaran yang memenuhi ketentuan dapat diakui setelah mahasiswa lulus sarjana dan resmi diterima pada program magister.

Dalam penjajakan UNTIRTA–ITB, peluang tersebut diarahkan bagi mahasiswa S1 Program Studi Matematika, IPA, Fisika, dan Kimia. Sebagai rancangan awal, mahasiswa yang telah menempuh sedikitnya 110 SKS dengan IPK minimal 3,25 diproyeksikan dapat mengikuti skema tersebut, sedangkan ketentuan final mengenai program studi, kuota, persyaratan, tahun akademik, dan mekanisme penerimaan akan ditetapkan melalui kesepakatan akademik bersama.

JKSM juga membuka peluang penyelarasan kurikulum, pengakuan kredit, dan kesinambungan riset antara tugas akhir sarjana dan tesis magister. Kedua pihak perlu menyusun matriks kurikulum yang memuat mata kuliah, beban SKS, prasyarat, semester pengambilan, bentuk pembelajaran, nilai minimum, masa berlaku hasil belajar, dan penanggung jawab akademik.

Topik tugas akhir mahasiswa dapat dikembangkan lebih lanjut menjadi penelitian tesis melalui mekanisme pembimbingan bersama atau joint supervision, dengan pembimbing utama pada jenjang sarjana berasal dari perguruan tinggi asal dan pada jenjang magister berasal dari ITB, sementara dosen dari institusi mitra dapat berperan sebagai pembimbing pendamping sesuai kesepakatan. Model ini diharapkan memperkuat kesinambungan pendidikan sekaligus mempertemukan kepakaran dosen kedua perguruan tinggi.

Agenda lainnya ialah kolaborasi kelompok keilmuan dosen melalui riset bersama, publikasi, pengabdian kepada masyarakat, pengembangan materi ajar, seminar, konferensi, lokakarya, serta pengembangan sumber daya manusia. Kolaborasi tersebut diharapkan tidak berhenti pada publikasi akademik, tetapi diterjemahkan menjadi inovasi, teknologi, bahan pembelajaran, dan solusi yang bermanfaat bagi masyarakat. Dengan demikian, kepakaran sains FMIPA ITB dan kekuatan pendidikan FKIP UNTIRTA dapat saling memperkuat dalam menghasilkan karya akademik sekaligus dampak nyata bagi pendidikan dan masyarakat.

Visi jangka panjang yang dibahas ialah pengembangan Jawara Science Curriculum, yakni rancangan kurikulum sains unggulan yang dikembangkan secara bertahap dari PAUD, SD, SMP, SMA hingga SMK. Gagasan ini memiliki semangat seperti kurikulum berstandar internasional, antara lain Cambridge atau International Baccalaureate (IB), tetapi dirancang berdasarkan kebutuhan dan visi pembangunan Indonesia. Kurikulum tersebut diharapkan mengintegrasikan penguasaan sains dan teknologi, kemampuan berpikir kritis, karakter, nilai keislaman, kearifan lokal, serta orientasi kebangsaan.

Keunggulan Jawara Science Curriculum terletak pada arsitektur kolaborasinya yang melibatkan dua perguruan tinggi dengan kekuatan saling melengkapi, yaitu FKIP UNTIRTA dan FMIPA ITB, bersama Forum Silaturrahim Pondok Pesantren (FSPP) Provinsi Banten sebagai jejaring pesantren penyelenggara satuan pendidikan. Perguruan tinggi menyumbangkan kekuatan akademik, keilmuan, riset, dan pedagogi, sedangkan pesantren menghadirkan pengalaman penyelenggaraan pendidikan serta kebutuhan peserta didik di lapangan. Dengan arsitektur tersebut, JKSM dapat menyiapkan kesinambungan pengembangan talenta dari sarjana menuju magister, kolaborasi dosen memperkuat riset dan hilirisasi, sementara Jawara Science Curriculum membangun fondasi budaya sains sejak pendidikan dasar hingga menengah.

Tahap berikutnya diarahkan pada pembentukan Tim Pelaksana Bersama untuk memetakan program studi dan kompetensi, menyusun matriks kurikulum dan pengakuan kredit, menyiapkan skema credit earning dan pembimbingan, menyelaraskan penelitian, serta mengembangkan perangkat pembelajaran dan uji implementasi bersama satuan pendidikan mitra FSPP Provinsi Banten. Pelaksanaan akan disertai pemantauan dan evaluasi berbasis data, termasuk capaian akademik, kompetensi, kepuasan mahasiswa, dan efektivitas program. Melalui kolaborasi tersebut, penjajakan FKIP UNTIRTA–FMIPA ITB diharapkan berkembang dari kesepakatan normatif menjadi program akademik yang terukur dan berkelanjutan untuk melahirkan generasi unggul dalam sains, kuat dalam karakter, berakar pada nilai dan budaya bangsa, serta mampu menggunakan ilmu pengetahuan untuk menggerakkan kemajuan Indonesia.***

2