SERANG, BANTENPRO.CO.ID – Manajemen PT Bank Pembangunan Daerah (Tbk) atau Bank Banten (BEKS) menyatakan bahwa penurunan harga saham selama satu pekan terkahir tidak bepengaruh kepada kegiatan bisnis, operasional dan pelayanan kepada nasabah.
“Penurunan harga saham Bank Banten (BEKS) yang terjadi akhir-akhir ini, tidak mempengaruhi jalannya kegiatan bisnis, operasional dan jasa layanan Bank Banten (BEKS) kepada seluruh Pemangku Kepentingan,” demikian bunyi keterangan terulis atau siaran pers Bank Banten yang diterima Bantenpro.co.id, pada Rabu (17/4/2024).
“Tahun 2024 sudah dicanangkan menjadi Tahun Pertumbuhan sehingga oleh karenanya seluruh Banteners di Kantor Cabang dan Kantor Cabang Pembantu (KCP) baik di wilayah Propinsi Banten maupun di luar wilayah Banten serta Unit Kerja Kantor Pusat bekerja keras merapatkan barisan untuk memperbaiki dan meningkatkan financial and business performance. Seluruh Banteners bahu membahu membuka jalan bagi pengembangan bisnis termasuk pegelolaan Rekening Umum Kas Daerah (RKUD) dari seluruh delapan kabupaten/kota se Provinsi Banten,” katanya.
BACA JUGA: Saham Bank Banten Dibanderol Rp20 Setelah Libur Lebaran 2024
Diketahui, harga saham PT Bank Pembangunan Daerah (Tbk) atau Bank Banten (BEKS) terus mengalami penurunan signifikan sepekan setelah libur panjang Lebaran Hari Raya Idul Fitri 1445 Hijriyah.
Dikutip dari laman Bursa Efek Indoenesia, harga saham BEKS menyentuh level Rp 20 per saham atau terjun bebas hingga 9,09 persen pada pembukaan perdagangan, selasa (16/4) kemarin.
Penurunan harga saham bank kebanggan warga Banten ini terjadi sejak penerapan full call auction pada Senin (25/3) lalu yang kala itu harganya masih di kisaran Rp 50 per saham, artinya sudah turun sekitar 60 persen sejak penerapan kebijakan tersebut.
BACA:
Masih berdasarkan siaran pers Bank Banten, baik turunnya harga, merupakan dinamika jual beli saham melalui bursa. Ada saatnya naik namun pada saat tertentu malah bisa turun.
“Namun demikian, penurunan harga saham bukan sesuatu yang perlu dicemaskan secara berlebihan. Banyak alasan yang dapat menjadi pemicunya,” katanya.
Secara terpisah, Ketua Forum Pemerhati Peduli Banten (FP2B) Imdad Rafwang menyatakan, bahwa dalam prakteknya, harga saham di Bursa ditentukan oleh permintaan dan penawaran pasar.
Namun demikian, kondisi ekonomi makro yang kurang bagus, seperti tingkat inflasi, kenaikan suku bunga dan lain-lain, juga berperan sangat besar terhadap penurunan harga saham.
Head of Equity Research Kiwoom Sekuritas Indonesia Sukarno, Alatas berpendapat bahwa penyebab utama saham tertidur di level Rp.50 adalah faktor fundamental, ada penurunan kinerja atau masih merugi.
Selama beberapa tahun, saham Bank Banten (BEKS) tercatat di Papan Pengembangan di pasar regular dan bertahan dengan harga Rp.50,- per lembar sahamnya.
Dengan diimplementasikannya Peraturan Bursa Efek Indonesia Nomor I-X tentang Penempatan Pencatatan Efek bersifat Ekuitas, sejak tanggal 12 Juni 2023, pencatatan saham BEKS pindah dari Papan Pengembangan ke Papan Pemantauan Khusus. Saham Bank Banten (BEKS) tidak sendiri berada di Papan Pemantauan Khusus.
Harga saham Bank Banten (BEKS) mulai mengalami penurunan, sejak mulai berlakunya Papan Pemantauan Khusus Tahap II (full periodic call auction) tanggal 25 Maret 2024. Berdasarkan ketentuan baru dari Bursa Efek Indonesia (BEI) tersebut, saham pada Papan Pemantauan Khusus dapat diperdagangkan sampai harga minimum Rp.1. Auto rejection untuk saham dengan harga Rp.1-10 sebesar Rp.1, sedangkan untuk saham dengan harga di atas Rp10 sebesar 10 persen.
Dengan demikian, saham yang masuk papan pemantauan khusus full call auction harga minimumnya tak lagi Rp50 melainkan Rp.1 dengan ketentuan auto rejection tersebut. Regulasi baru ini yang membuka peluang turunnya harga saham menjadi di bawah Rp.50,-
Terdapat lebih dari 200 emiten yang sahamnya masuk dalam daftar Papan Pemantauan Khusus, di antaranya: PT. Garuda Indonesia (Persero) Tbk. (GIAA), PT. Waskita Beton Precast Tbk. (WSBP), PT Bakrie Telecom Tbk. (BTEL), dan PT Mahaka Media Tbk., PT. MNC Asia Holding Tbk (BHIT), PT. Bakrie & Brothers Tbk (BNBR), PT. Smartfren Telecom Tbk (FREN), PT Waskita Beton Precast Tbk (WSBP).
Akademisi Untirta, Hady Sutjipto menilai, terus menurunnya harga saham Bank Banten (BEKS) disebabkan oleh investor lokal yang mengalami panic selling.
“Saya menduga karena pasar modal itu sangat rentan dan kadang tidak terkait erat dengan kinerja perusahaan sesungguhnya.”
Selain faktor panic selling, Hady menduga, terus anjloknya saham Bank Banten (BEKS) juga imbas kondisi ekonomi global yang tidak menentu yang ditandai kondisi geopolitik di Ukraina dan Gaza, kebijakan Bank Sentral Amerika dan kondisi ekonomi negara Cina dan negara Eropa yang bermasalah.














