LEBAK, BANTENPRO.CO.ID – Pondok Pesantren Modern Manahijussadat, Serdang, Kecamatan Cibadak, Kabupaten Lebak, menjadikan momentum Milad ke-30 sebagai pijakan untuk memperkuat komitmen berbenah dan berkarya. Memasuki usia tiga dasawarsa, pesantren ini terus mendorong peningkatan mutu pendidikan, pembangunan sarana, serta memperluas kontribusinya bagi umat dan masyarakat.
Milad ke-30 yang akan diperingati pada 3 Agustus 2027 mengusung tema “Tiga Dasawarsa Wujudkan Manahijussadat Berbenah, Cipta Sarana, Kukuh Berbenah, Nyata Berkarya.” Tema tersebut menjadi cerminan tekad pesantren untuk terus meningkatkan kualitas pendidikan, memperkuat pembinaan karakter santri, sekaligus menjawab tantangan perkembangan zaman tanpa meninggalkan nilai-nilai Islam sebagai fondasi utama.
Mudir Pondok Pesantren Modern Manahijussadat, Dr. KH. Sulaiman Effendi, mengatakan usia 30 tahun merupakan anugerah sekaligus amanah yang harus dijaga melalui kerja nyata dan pembenahan yang berkelanjutan.
“Tiga puluh tahun bukan perjalanan yang singkat. Ini adalah nikmat Allah SWT yang wajib kami syukuri sekaligus amanah yang harus terus kami jaga. Karena itu, Milad ke-30 bukan sekadar seremoni, tetapi menjadi momentum muhasabah untuk melihat apa yang telah kami capai dan apa yang harus terus kami benahi agar pesantren semakin maju dan memberi manfaat yang lebih luas,” ujarnya.
Sejak berdiri, Pondok Pesantren Modern Manahijussadat berkomitmen mengembangkan pendidikan yang memadukan ilmu agama dan ilmu pengetahuan dengan berlandaskan Al-Qur’an, As-Sunnah, serta pembinaan akhlakul karimah. Berbagai tantangan telah dilalui hingga pesantren mampu tumbuh dan memperoleh kepercayaan masyarakat.
Selama tiga dekade, Manahijussadat telah melahirkan ribuan alumni yang kini tersebar di berbagai daerah. Mereka berkiprah sebagai ulama, pendidik, aparatur pemerintah, pelaku usaha, hingga berbagai profesi lainnya sebagai wujud kontribusi pesantren dalam membangun umat dan bangsa.
KH. Sulaiman mengungkapkan, perjalanan panjang tersebut dibangun melalui perjuangan yang tidak mudah. Pada masa awal berdiri, jumlah santri bahkan hanya belasan orang.
“Pesantren ini dibangun dengan penuh perjuangan. Ada masa ketika jumlah santri hanya belasan orang. Hari ini kami bersyukur Allah SWT masih menjaga amanah ini hingga memasuki usia 30 tahun. Semua ini menjadi motivasi bagi kami untuk terus berkhidmat melalui pendidikan dan dakwah,” katanya.
Menurutnya, semangat berbenah yang diusung pada Milad ke-30 bukan sekadar slogan, melainkan komitmen melakukan pembaruan tanpa meninggalkan jati diri pesantren.
“Berbenah bukan berarti meninggalkan tradisi pesantren, tetapi memperkuat fondasi agar mampu menjawab tantangan zaman. Kami ingin terus meningkatkan mutu pendidikan, memperkuat pembinaan karakter santri, membangun sarana yang lebih representatif, serta melahirkan generasi yang berilmu, berakhlak mulia, mandiri, dan mampu menjadi solusi di tengah masyarakat,” ujarnya.
Ia menilai tantangan pendidikan Islam ke depan semakin kompleks. Karena itu, pesantren harus mampu mencetak lulusan yang tidak hanya menguasai ilmu agama, tetapi juga memiliki kompetensi di bidang teknologi, kewirausahaan, dan kepemimpinan.
“Target kami ke depan bukan hanya mencetak lulusan yang paham agama, tetapi juga mampu bersaing di bidang teknologi, kewirausahaan, dan kepemimpinan. Kami ingin santri Manahijussadat menjadi pelopor perubahan yang tetap berpegang teguh pada nilai-nilai Islam,” tegasnya.
Menurut KH. Sulaiman, keberhasilan Manahijussadat mencapai usia 30 tahun merupakan buah kebersamaan seluruh keluarga besar pesantren.
“Kalau hari ini Manahijussadat masih berdiri dan terus berkembang, itu bukan hasil kerja satu atau dua orang. Ini adalah buah perjuangan para pendiri, para guru, para asatidz, santri, alumni, wali santri, dan masyarakat yang selama ini membersamai perjalanan pesantren. Kepada mereka semua kami menyampaikan rasa syukur dan terima kasih yang sebesar-besarnya,” ungkapnya.
Momentum Milad ke-30 juga diharapkan menjadi ruang memperkuat kolaborasi antara pesantren, alumni, dan masyarakat. Menurutnya, alumni merupakan aset strategis yang memiliki peran besar dalam mendukung kemajuan pesantren.
“Kami berharap Milad ke-30 menjadi momentum menyatukan kembali keluarga besar Manahijussadat. Alumni adalah kekuatan besar pesantren untuk ikut membangun pendidikan, memperkuat dakwah, dan memberikan manfaat yang lebih luas bagi masyarakat,” katanya.
Sebagai implementasi tema Milad ke-30, panitia telah menyiapkan berbagai kegiatan edukatif, religius, sosial, dan kompetitif yang melibatkan santri, alumni, wali santri, serta masyarakat. Rangkaian kegiatan meliputi lomba bahasa, perlombaan kepramukaan, marching band, pentas seni, berbagai cabang olahraga, santunan sosial, seminar pendidikan, tabligh akbar, hingga reuni akbar alumni.
KH. Sulaiman menegaskan, seluruh rangkaian kegiatan tersebut tidak hanya menjadi ajang perayaan, tetapi juga wadah membangun karakter, mempererat ukhuwah Islamiyah, sekaligus memperkuat kepedulian sosial.
“Kami ingin masyarakat merasakan bahwa pesantren bukan hanya tempat belajar agama, tetapi juga pusat pembinaan karakter, pengembangan potensi generasi muda, dan pengabdian kepada masyarakat. Itulah semangat yang ingin kami hadirkan dalam Milad ke-30 ini,” tuturnya.
Memasuki usia tiga dasawarsa, Pondok Pesantren Modern Manahijussadat menegaskan pengabdiannya tidak berhenti di ruang-ruang pendidikan. Pesantren menargetkan diri menjadi pusat lahirnya generasi muslim yang berilmu, berakhlak mulia, mandiri, adaptif terhadap perkembangan zaman, serta mampu bersaing di berbagai bidang tanpa kehilangan jati diri keislamannya.
“Insya Allah kami akan terus berbenah dan terus berkarya. Harapan kami, Manahijussadat tidak hanya dikenal karena usianya yang sudah 30 tahun, tetapi karena mampu melahirkan generasi Qurani yang berintegritas, berdaya saing, serta memberikan manfaat bagi agama, bangsa, dan kemanusiaan,” Pungkasnya.***













