TANGERANG, BANTENPRO.CO.ID – Penjual bendera musiman, Pak Mus (40), asal Cirebon, telah berjualan selama lebih dari 10 tahun. Biasanya, menjelang Hari Kemerdekaan Republik Indonesia, omzetnya selalu meningkat. Namun, tahun ini ia merasakan kesedihan karena omzetnya menurun drastis.
“Saya selalu menantikan Hari Raya Kemerdekaan Republik Indonesia, karena pada hari itu, permintaan bendera merah putih selalu meningkat, dan banyak pembelinya, seperti pengendara motor dan mobil. Namun, tahun ini berbeda. Saya merasa sedih karena omzetnya menurun drastis di tahun 2025 ini, berbeda dengan tahun-tahun lalu,” kata Pak Mus kepada BantenPro.co.id pada Jumat, 8 Agustus 2025.
Saat membuka lapaknya di Jalan Pantura Kota Tangerang, tepat di samping Halte Satria, Pak Mus menyadari bahwa persaingan tidak hanya datang dari sesama pedagang kaki lima. Ia juga harus bersaing dengan pedagang daring (online) yang menjual bendera dengan harga lebih murah dan kualitas yang setara.
“Contohnya saja, saya menjualnya dari harga Rp15.000 hingga Rp500.000, tergantung motif dan ukurannya,” tambahnya.
Pak Mus merasa kesulitan bersaing karena tidak memiliki pengetahuan yang cukup tentang teknologi dan pemasaran daring. Usahanya yang telah dijalankan selama lebih dari satu dekade kini terancam.
Namun, menjelang Hari Kemerdekaan ke-80 Republik Indonesia, Pak Mus berinisiatif meminta bantuan putrinya yang mengerti teknologi dan pemasaran daring. Anaknya memberikan beberapa saran untuk meningkatkan penjualan daring.
Dengan bantuan putrinya, Pak Mus mulai membuat akun media sosial dan mempromosikan produknya secara daring. Ia juga menawarkan harga yang kompetitif dan kualitas yang baik.
“Meskipun masih ada tantangan, Pak Mus merasa bahwa ada harapan untuk meningkatkan omzetnya. Ia berharap bahwa dengan bantuan teknologi dan pemasaran daring, ia bisa mengembangkan usahanya dan bersaing dengan pedagang online lainnya,” kata Pak Mus kepada BantenPro.co.id.(Denni)














