Kamis, 16 April 2026

Temui Warga Ciputat, Budi Prajogo Dorong Gerakan Lawan Darurat Sampah

- Kamis, 5 Februari 2026

| 19:45 WIB

(FOTO: ISMATULLAH/BANTENPRO.CO.ID).

TANGSEL, BANTENPRO.CO.ID – Persoalan sampah yang kian menggunung di sejumlah titik Kota Tangerang Selatan menjadi perhatian anggota DPRD Provinsi Banten, Budi Prajogo. Ia mengajak warga memulai gerakan melawan darurat sampah dari rumah tangga masing-masing.

Ajakan itu disampaikan saat kegiatan reses masa persidangan II tahun sidang 2025–2026 di Kampung Cipayung, Kelurahan Cipayung, Kecamatan Ciputat, Kota Tangerang Selatan, Kamis (5/2/2026).

Di hadapan warga, Budi menegaskan krisis sampah tidak hanya terjadi di Tangerang Selatan, tetapi juga di berbagai kota besar lain di Indonesia.

“Ini bukan cuma Tangsel. Bekasi, Bandung, Kabupaten Tangerang, Kota Tangerang, sampai Jakarta, semuanya sedang darurat sampah,” ujarnya.

Ia menyoroti tumpukan sampah di trotoar dan kolong jembatan layang Ciputat sebagai gambaran nyata kondisi tersebut. Menurutnya, persoalan sampah tidak akan pernah selesai jika hanya mengandalkan pemerintah.

“Kalau terus dibuang ke TPA, mau sampai kapan? Lima tahun? Sepuluh tahun? Pasti akan penuh. Anak cucu kita nanti bagaimana?” kata Budi.

Dalam kesempatan itu, politisi dari PKS ini mendorong warga membentuk dan mengaktifkan bank sampah di lingkungan masing-masing.

Ia juga membagikan pengalamannya dalam mengelola sampah rumah tangga. “Saya sudah praktik. Kalau belum praktik, saya tidak berani bicara,” ujarnya.

Menurut Budi, dengan memilah dan menyetor sampah nonorganik ke bank sampah, volume sampah rumah tangganya berkurang hingga 80 persen.

Dari sebelumnya membuang “10 bagian” sampah, kini hanya tersisa sekitar dua bagian yang benar-benar menjadi residu.

Ia mengungkapkan, dari kebiasaan menabung sampah selama setahun, dirinya memperoleh sekitar Rp120 ribu.

Selain itu, ada warga yang mampu menabung hingga Rp1,7 juta per tahun dari bank sampah dengan rutin mengumpulkan kardus bekas dari pasar.

Menurutnya, hal tersebut bukan hanya soal uang, tetapi juga mengurangi sampah yang masuk ke TPA.

Untuk pengelolaan sampah organik, Budi memperkenalkan dua opsi, yakni budidaya maggot dan pembuatan lubang biopori.

Menurutnya, maggot atau larva lalat hitam mampu mengurai sampah organik dalam jumlah besar dengan cepat serta dapat dimanfaatkan sebagai pakan ikan seperti lele dan nila.

Bagi warga yang menganggap maggot terlalu rumit, ia menawarkan solusi sederhana berupa pembuatan lubang biopori dengan membuat lubang berdiameter sekitar 30 sentimeter di pekarangan rumah, lalu memasukkan sisa sayur dan limbah organik ke dalamnya hingga terurai menjadi kompos.

“Tanah menetralisir bau dan mengurai jadi pupuk. Jangan campur plastik, khusus organik saja,” ungkapnya.

Budi menegaskan, idealnya sampah yang dibuang ke tempat pembuangan akhir (TPA) hanyalah residu atau sampah yang tidak bisa diolah, seperti popok bayi dan pembalut.

“Selebihnya harus selesai di rumah dan lingkungan. Organik masuk biopori, nonorganik ke bank sampah,” katanya.

Ia menambahkan, program bank sampah dan TPS 3R sebenarnya pernah digalakkan Pemerintah Kota Tangerang Selatan pada awal berdiri. Namun saat itu kapasitas TPA Cipecang masih mencukupi, sementara kini kondisinya sudah penuh.

Karena itu, Budi mengajak warga menjadikan pengelolaan sampah sebagai gerakan bersama yang dimulai dari tingkat RT dan RW.

“Jangan menunggu pemerintah. Mulai dari diri sendiri. Kalau bukan kita yang peduli, siapa lagi?” pungkasnya.***