SERANG, BANTENPRO.CO.ID – Bertepatan dengan peringatan Hari NKRI, kepengurusan Masjid At-Taqwa Forum Silaturahmi Pondok Pesantren (FSPP) Provinsi Banten resmi terbentuk. Ustadz Ruba’i dipercaya menakhodai kepengurusan periode 2026-2029.
Dalam prosesi tersebut, Ketua Presidium FSPP Provinsi Banten, Dr. H. Fadlullah, S.Ag., M.Si., menekankan visi besar agar masjid tidak sekadar menjadi tempat ibadah ritual, melainkan episentrum kebangkitan ekonomi umat, khususnya dalam menghadapi tantangan pasca Lebaran.
Fadlullah menyoroti ketidakpastian ekonomi global yang mulai berdampak pada daya beli rumah tangga. Menurutnya, Masjid At-Taqwa yang berlokasi strategis di Jalur Lingkar Selatan Kota Serang harus hadir sebagai solusi nyata.
“Masjid harus menjadi pusat kekuatan spiritual dan ekonomi. Dari sini lahir serikat dagang yang menyatukan gerak ulama dan pengusaha; sebuah kolaborasi antara jihad intelektual dan jihad finansial,” ujar Fadlullah dalam amanatnya.
Ia menyayangkan fenomena penurunan aktivitas ibadah yang kerap terjadi setelah Ramadhan usai. Padahal, kehadiran jemaah adalah modal utama (social capital) untuk menggerakkan ekonomi berbasis komunitas.
“Iman yang hidup adalah penggerak ekonomi. Tanpa jemaah, masjid hanyalah bangunan. Membangkitkan ekonomi harus dimulai dengan menghidupkan kembali shalat berjamaah. Dari interaksi harian itulah terbangun kepercayaan dan jaringan bisnis antar-umat,” tegasnya.
Masjid At-Taqwa telah menyiapkan peta jalan pemberdayaan ekonomi yang terukur:
- Jumat Berkah & Lumbung Pangan: Penguatan stok beras untuk jaring pengaman sosial jamaah pasca Lebaran.
- Kajian Etos Kerja: Mengubah pengajian menjadi ruang pembentukan kemandirian dan inovasi ekonomi.
- Koperasi & Padat Karya: Memasuki bulan Zulkaidah, masjid akan mengaktifkan koperasi dan menyalurkan infak produktif untuk modal usaha kecil.
- Konsolidasi Kurban: Menjelang Iduladha, rantai pasok hewan kurban akan melibatkan peternak lokal di bawah jaringan pesantren FSPP.
“Transformasi dari beras ke daging menjadi puncak gerakan ketahanan pangan kita. Daging kurban tidak hanya dibagikan, tapi diolah agar memiliki nilai ekonomi lebih tinggi bagi jemaah,” tambah Fadlullah.
Menutup sambutannya, Fadlullah mengutip Surah Quraisy yang menegaskan hubungan antara ibadah kepada Allah (penghambaan) dengan jaminan kecukupan pangan dan rasa aman.
“Ketika iman hidup, masjid hidup. Ketika masjid hidup, ekonomi bergerak. Inilah jalan kita: merapat, menguat, dan melangkah bersama menuju masyarakat yang adil dan makmur,” pungkasnya.***














