SERANG, BANTENPRO.CO.ID – Ketua Presidium Forum Silaturahmi Pondok Pesantren (FSPP) Provinsi Banten, Dr. H. Fadlullah, S.Ag., M.Si., menekankan pentingnya membangun “Peradaban Takwa” sebagai solusi atas krisis moral di tengah pesatnya kemajuan zaman. Menurutnya, peradaban yang sejati tidak hanya diukur dari kemegahan fisik, melainkan dari kualitas batin dan akhlak manusianya.
Fadlullah menjelaskan bahwa peradaban takwa bertumpu pada fondasi tauhid. Tauhid bukan sekadar keyakinan teologis, melainkan cara pandang yang menyatukan dimensi ruh, akal, dan tindakan manusia dalam memikul amanah sebagai khalifah di bumi.
Dalam pandangannya, sejarah mencatat bahwa para nabi membawa misi utama untuk meluruskan arah peradaban yang menyimpang. Mereka tidak hanya mengajarkan ritual, tetapi membangun sistem kehidupan yang berakar pada keadilan dan kemaslahatan.
“Peradaban para nabi adalah peradaban nilai. Ia tidak bergantung pada kemewahan materi, melainkan pada kekuatan makna. Inilah yang menjadikannya relevan lintas zaman,” ujar Fadlullah.
Ia mencontohkan bagaimana Masjid Nabawi di masa Rasulullah SAW menjadi pusat operasionalisasi peradaban. Meski bangunannya sederhana, dari sana lahir tatanan sosial yang kuat, sistem pendidikan suffah yang mencetak generasi berkarakter, hingga pengambilan keputusan strategis.
Fadlullah memberikan catatan kritis terhadap arah pembangunan masa kini yang sering kali mengalami anomali. Pembangunan fisik dan infrastruktur melaju sangat cepat, namun sering kali meninggalkan pembangunan integritas manusia.
“Gedung-gedung tinggi berdiri, tapi integritas belum tentu tumbuh. Jalan diperlebar, tapi keadilan sosial belum merata. Inilah paradoks kemajuan yang kehilangan arah,” tegasnya.
Ia merujuk pada keruntuhan Kekaisaran Romawi dan Sasaniyah, serta peringatan dalam Surah Al-Fajr, bahwa peradaban besar masa lalu hancur bukan karena kekurangan teknologi, melainkan karena krisis moral dan perilaku yang melampaui batas.
Sebagai langkah konkret, Fadlullah mendorong agar masjid dikembalikan pada fungsi strategisnya. Masjid tidak boleh hanya menjadi tempat ibadah ritual, tetapi harus bertransformasi menjadi pusat pembinaan manusia secara utuh.
Konsep Masjid Berasrama menjadi salah satu solusi relevan yang ditawarkan. Ekosistem ini mencakup ketersediaan dapur sehat untuk pemenuhan gizi, ruang belajar inklusif, perpustakaan, hingga laboratorium sebagai pusat riset dan kreativitas bagi jamaah dan santri.
“Peradaban takwa adalah proyek membangun manusia dari dalam. Tantangan kita hari ini adalah menghidupkan kembali model tersebut agar kemajuan sejati menemukan maknanya,” pungkasnya.***














