Oleh: Dr. H. Fadlullah, S.Ag., M.Si (Ketua Presidium FSPP Provinsi Banten)
Hari ini, di pelataran Masjid Agung Banten Lama, sejarah seperti bangkit dari tidurnya. Batu-batu tua menjadi saksi bahwa dari tempat ini pernah lahir keberanian yang mengguncang kekuasaan dunia. Kita tidak sekadar memperingati 400 tahun kelahiran Syekh Yusuf Al-Makassari, tetapi membuka kembali jejak dua sahabat yang menolak tunduk pada penjajahan. Ini bukan hanya seremoni, melainkan panggilan untuk mengingat makna kemerdekaan yang sesungguhnya. Kehadiran Menteri Kebudayaan menegaskan bobot peristiwa ini sebagai agenda kebangsaan. Pengakuan sebagai bagian dari UNESCO Anniversary 2026 mengangkat kisah ini ke panggung global. Dari Banten hingga Makassar, jejak mereka terus hidup dalam ingatan sejarah.
Kisah ini tidak bermula di medan perang, melainkan di ruang-ruang pencarian ilmu. Syekh Yusuf dan Pangeran Surya dipertemukan sebagai dua pemuda yang sama-sama mencari kebenaran. Mereka tumbuh dalam tradisi keilmuan yang kuat dan visi peradaban yang jelas. Islam bagi mereka bukan sekadar ajaran ritual, tetapi fondasi masyarakat yang berdaulat. Pertemuan itu melahirkan hubungan yang melampaui persahabatan biasa. Ikatan mereka berkembang menjadi relasi intelektual, spiritual, dan kekeluargaan. Dari sinilah sejarah besar mulai berakar.
Takdir sempat memisahkan jalan keduanya. Syekh Yusuf mengembara ke Timur Tengah untuk memperdalam ilmu agama dan tasawuf. Ia belajar di Mekkah, Madinah, hingga Damaskus, menyerap tradisi keilmuan Islam yang luas. Perjalanan ini membentuknya menjadi ulama besar dengan otoritas spiritual yang diakui. Ia dikenal dengan gelar Al-Taj Al-Khalwati, simbol kedalaman dalam dunia tarekat. Sementara itu, di Banten, Pangeran Surya bersiap memikul tanggung jawab kepemimpinan. Dua jalur ini berbeda, tetapi saling menguatkan.
Ketika Syekh Yusuf kembali ke Nusantara, situasi politik telah berubah drastis. Makassar jatuh ke tangan VOC, menandai tekanan kolonial yang semakin kuat. Ia kemudian menuju Banten pada 1664, tempat sahabat lamanya telah menjadi Sultan Ageng Tirtayasa. Pertemuan mereka bukan sekadar reuni, tetapi konsolidasi dua kekuatan. Syekh Yusuf hadir sebagai ulama, sahabat, dan penasihat strategis. Banten pun memperoleh energi baru dalam kepemimpinannya. Dari titik ini, arah sejarah mulai ditentukan.
Hubungan keduanya mencapai puncak dalam ikatan spiritual dan kekeluargaan. Sultan Ageng menjadikan Syekh Yusuf sebagai guru dalam tasawuf. Ia juga menikahkannya dengan putrinya, memperkuat hubungan di lingkar inti kekuasaan. Syekh Yusuf kemudian berperan sebagai mufti kerajaan. Ia memberi arah dalam urusan agama sekaligus strategi politik. Kolaborasi ini menghadirkan keseimbangan antara kekuasaan dan kebijaksanaan. Banten berdiri di atas fondasi yang kokoh.
Di bawah kepemimpinan Sultan Ageng dan bimbingan Syekh Yusuf, Banten mencapai puncak kejayaan. Kebijakan luar negeri dijalankan secara mandiri dan berani. Monopoli dagang VOC ditolak secara tegas. Banten dibuka sebagai pelabuhan bebas yang menghubungkan berbagai bangsa. Aktivitas ekonomi tumbuh tanpa dominasi kolonial. Kehidupan keagamaan diperkuat melalui pendidikan dan pesantren. Banten menjelma menjadi pusat peradaban yang berdaulat.
Keberhasilan ini memicu kecemasan VOC. Banten dipandang sebagai ancaman serius terhadap kepentingan mereka. Taktik “devide et impera” dijalankan untuk memecah kekuatan internal. Sultan Haji, putra mahkota, didekati dan dipengaruhi. Ambisi kekuasaan dimanfaatkan untuk meretakkan keluarga kerajaan. Konflik internal berubah menjadi perang saudara. Dalam situasi ini, Syekh Yusuf berdiri di garis depan bersama Sultan Ageng.
Perjuangan mereka melampaui konflik politik semata. Ini adalah manifestasi iman dan harga diri. Mereka memegang prinsip bahwa kehormatan lebih tinggi daripada hidup dalam penindasan. Perlawanan dilakukan melalui strategi gerilya yang efektif. Pasukan Banten dan Makassar bersatu dalam tekad yang sama. Di tengah tekanan perang, nilai spiritual tetap menjadi pijakan. Melawan kezaliman dipahami sebagai bagian dari ibadah.
Namun, tekanan yang berkepanjangan membawa konsekuensi berat. Banyaknya korban mendorong Sultan Ageng mengambil keputusan sulit. Ia memilih menyerahkan diri untuk menghentikan pertumpahan darah. Keputusan ini menjadi bentuk pengorbanan seorang pemimpin. Ia wafat dalam tahanan VOC dengan martabat yang tetap terjaga. Sementara itu, Syekh Yusuf terus melanjutkan perlawanan. Hingga akhirnya, ia ditangkap melalui tipu daya.
VOC menyadari besarnya pengaruh Syekh Yusuf. Ia tidak dapat dibiarkan tetap berada di Nusantara. Pengasingan dilakukan ke Sri Lanka sebagai langkah awal. Namun, pengaruhnya tetap hidup melalui jaringan murid dan ajarannya. Hal ini membuat VOC semakin waspada. Pada 1694, ia dipindahkan ke Afrika Selatan. Tempat itu dianggap sebagai lokasi yang paling jauh dan terisolasi. Harapannya, pengaruhnya akan padam.
Harapan itu tidak terbukti. Di tanah pengasingan, Syekh Yusuf justru membangun basis baru. Ia membimbing para budak dan tawanan politik. Islam diajarkan sebagai jalan pembebasan dan martabat manusia. Komunitas Muslim pertama di Afrika Selatan pun mulai terbentuk. Ia menjadi pelopor peradaban dalam keterasingan. Wilayah tempat tinggalnya kemudian dikenal sebagai “Macassar.” Nama itu menjadi simbol penghormatan yang bertahan lama.
Warisan Syekh Yusuf melampaui zamannya. Perjuangannya menginspirasi tokoh-tokoh besar dunia, termasuk Nelson Mandela. Ia dikenang sebagai simbol perlawanan terhadap ketidakadilan. Syekh Yusuf diakui sebagai pahlawan oleh Indonesia dan Afrika Selatan. Pengakuan ini menegaskan luasnya pengaruh sejarahnya. Ia membuktikan bahwa perjuangan melawan tirani bersifat universal. Dari Nusantara, pengaruhnya menjangkau dunia.
Peringatan 400 tahun ini bukan sekadar mengenang masa lalu. Ini adalah upaya merawat memori kolektif bangsa. Rencana pembangunan museum di Cape Town menjadi bagian dari diplomasi budaya. Jejak sejarah dijaga agar tetap hidup dalam kesadaran generasi mendatang. Hubungan Banten dan Makassar kembali ditegaskan melalui narasi ini. Persahabatan yang melahirkan peradaban tidak boleh dilupakan. Dari sejarah, kita menata masa depan.
Akhirnya, kita tidak hanya mengenang dua tokoh besar. Kita merayakan nilai yang mereka perjuangkan sepanjang hidupnya. Mereka berdiri di sisi kebenaran, meski harus menghadapi pengorbanan besar. Persahabatan mereka melampaui kepentingan pribadi dan politik. Mereka mengajarkan arti keberanian, iman, dan kemerdekaan sejati. Kisah ini tetap relevan untuk setiap zaman. Jadikan kami bagian dari mata rantai perjuangan mereka. Semoga semangat itu terus hidup dalam jiwa generasi bangsa.***













