Oleh : Wari Syadeli, M.Si
Sekertaris Dewan Pakar FSPP Banten
Festival Pesantren 2026 menjadi syiar nyata eksistensi pesantren di Banten yang terus hidup dan berkembang. Pelataran Masjid Agung Banten bukan sekadar ruang terbuka yang sunyi, melainkan panggung peradaban tempat denting sejarah bergema paling nyaring. Di ruang itulah transformasi masyarakat Banten berlangsung, dari kepercayaan pada leluhur menjadi masyarakat yang bertauhid menjadikan cahaya Islam bersinar penuh gemilang dari tanah Banten, dibangun oleh sinergi ulama dan sultan yang menanamkan fondasi spiritual, politik, dan intelektual yang jejaknya masih terasa hingga kini.
Syiar warisan itu kini menemukan bentuk barunya melalui Festival Pesantren 2026 yang digagas oleh Ikatan Alumni Pondok Pesantren Daar El-Qolam (IKAPDQ) dan didukung oleh berbagai pihak baik Pemerintah Daerah dan Pusat juga Forum Silaturahmi Pondok Pesantren (FSPP) Provinsi Banten. Kegiatan ini Lebih dari sekadar perhelatan seremonial, festival ini adalah gerakan kolektif untuk merawat jejak dakwah, menguatkan eksistensi pesantren, serta menghidupkan kembali semangat juang para ulama dan sultan Banten di tengah tantangan zaman yang terus berubah.
Syaikh Yusuf Al-Makassari, yang lahir di Gowa pada tahun 1626, bukan hanya seorang ulama besar, tetapi juga pejuang yang berdiri di garis depan perlawanan terhadap VOC. Sebagai mufti dan penasihat utama Sultan Ageng Tirtayasa, ia memimpin ribuan pasukan dalam perjuangan melawan penjajahan. Keteguhan prinsipnya mengantarkannya pada pengasingan hingga ke Sri Lanka dan Afrika Selatan. Namun pengasingan itu tidak memadamkan perjuangannya, justru menjadi ladang baru bagi dakwah yang lebih luas dan mendalam.
Di Afrika Selatan, ia tampil sebagai simbol perlawanan terhadap sistem Apartheid, bahkan menginspirasi tokoh besar seperti Nelson Mandela. Pengaruhnya melampaui batas negara dan zaman, menjadikannya satu-satunya tokoh yang dianugerahi gelar pahlawan nasional di dua negara, Indonesia dan Afrika Selatan. Pada tahun 2026, dunia kembali mengakui kebesarannya melalui peringatan 400 tahun kelahirannya yang masuk dalam agenda UNESCO, menegaskan bahwa warisan Syaikh Yusuf adalah bagian dari peradaban global.
Kedekatan Syaikh Yusuf dengan Banten tidak dapat dipisahkan dari posisi Banten pada abad ke-17 sebagai pusat pendidikan Islam yang maju. Dan Kawasan Masjid Kasunyatan menjadi salah satu episentrum keilmuan seperti Nabi Menjadikan Masjid Madinah sebagai Universitas bagi para ahlu suffah, Masjid Kasunyatan menjadi tempat para ulama dan calon pemimpin dididik dalam berbagai disiplin ilmu keislaman dan kepemimpinan. Tradisi itu tidak pernah terputus, melainkan terus hidup dan berkembang yang kini menjadi enam ribuan lebih pesantren yang tersebar di seluruh Banten hingga hari ini.
Dari rahim sejarah itulah lahir pesantren-pesantren Baik salafiyah maupun modern seperti Pondok Pesantren Daar El-Qolam yang berdiri sejak 1968, menjadi salah satu model pesantren modern di Banten yang melahirkan alumni yang besar tersebar keseluruh Nusantara termasuk di pedalaman Aceh.
Kini ribuan pesantren dengan beragam bentuk dan latar belakang warna organisasi tergabung dalam FSPP Provinsi Banten menjadi bukti nyata bahwa Banten tetap menjadi kawah candradimuka pusat pendidikan dan pembentukan santri yang akan tersebar ke seluruh Nusantara dan mancanegara, menunjukkan peran strategis Banten dalam dakwah Islam.
Momentum kebangkitan ini semakin kuat ketika peringatan 400 tahun kelahiran Syaikh Yusuf digelar di pelataran Masjid Banten. Acara tersebut dihadiri langsung oleh Fadli Zon bersama perwakilan negara sahabat, khususnya dari Afrika Selatan sebagai negara yang memiliki ikatan historis dengan perjuangan Syaikh Yusuf. Turut hadir pula keluarga besar keturunan Syaikh Yusuf Al-Makassari yang datang langsung dari Makassar ke Banten, menambah kekhidmatan sekaligus menegaskan bahwa warisan beliau bukan hanya milik Banten atau Indonesia, tetapi telah menjadi milik dunia.
Festival Pesantren 2026 hadir sebagai wujud nyata dari upaya menghidupkan kembali ruh dakwah tersebut. Diselenggarakan di kawasan bersejarah Banten Lama, kegiatan ini tidak hanya menjadi ruang pertemuan para santri, kiai, dan alumni, tetapi juga menghadirkan dampak nyata dalam kehidupan masyarakat. Perputaran ekonomi meningkat melalui keterlibatan UMKM lokal, potensi wisata religi semakin dikenal luas, dan jaringan ukhuwah antar pesantren semakin kokoh terjalin.
Dakwah yang dahulu hadir dalam bentuk perjuangan fisik dan strategi gerilya kini berevolusi menjadi gerakan sosial, ekonomi, dan pendidikan. Pesantren tidak hanya menjadi tempat menimba ilmu agama, tetapi juga menjadi pusat pemberdayaan umat. Santri dididik untuk memahami kitab, sekaligus mampu memimpin, berwirausaha, dan menjaga nilai-nilai keislaman di tengah derasnya arus globalisasi.
Semangat Syaikh Yusuf dan Sultan Banten tetap hidup dalam setiap langkah ini. Nilai-nilai yang mereka perjuangkan—keadilan, keteguhan akidah, dan pembangunan peradaban—terus diwariskan dari generasi ke generasi. Melalui pesantren, semangat itu tidak hanya dikenang, tetapi dihidupkan dan dikembangkan agar tetap relevan dengan kebutuhan zaman.
Dari pelataran Masjid Banten, gema perjuangan itu terus beresonansi. Festival Pesantren 2026 menjadi bukti bahwa generasi pesantren hari ini bukan sekadar pewaris sejarah, tetapi juga pelanjut dan pembaharu peradaban. Ini adalah ikhtiar bersama untuk memastikan bahwa api peradaban yang telah dinyalakan oleh para ulama agung tidak akan pernah padam.
Dari Banten untuk dunia, cahaya dakwah itu akan terus menyala, menerangi langkah umat dan menjadi mercusuar peradaban yang kokoh dan berkelanjutan. Festival Pesantren 2026 bukanlah akhir, melainkan awal dari babak baru kebangkitan syiar pesantren di Banten yang lebih kuat, luas, dan berdampak.***














