Selasa, 5 Mei 2026

Proyek Gedung Perpusda Cilegon Disorot, Mandor Klaim Pembayaran Tertahan Berbulan-bulan

- Selasa, 5 Mei 2026

| 13:18 WIB

Gedung Perpustakaan Daerah (Perpusda) Kota Cilegon baru yang rampung dibangun menjadi sorotan setelah muncul keluhan mandor terkait tunggakan pembayaran pekerjaan. (Foto: Ismatullah/Bantenpro.co.id)

CILEGON, BANTENPRO.CO.ID – Proyek pembangunan Gedung Perpustakaan Daerah (Perpusda) Kota Cilegon yang terletak di belakang gedung Cilegon Center Mall (CCM), Kelurahan Sukmajaya, Kecamatan Jombang kembali menuai sorotan. Seorang mandor, Rydyawan Dwi Tirtana, mengaku belum menerima pembayaran penuh meski pekerjaan yang ia tangani disebut telah mencapai 85 persen.

Warga Kota Serang itu menjelaskan, dirinya mengerjakan instalasi fire alarm system setelah dikenalkan oleh rekannya, Umar, kepada Darwin yang disebut sebagai koordinator lapangan sekaligus perwakilan pimpinan CV Bangun Jaya Mandiri.

Dalam kesepakatan awal, nilai pekerjaan ditetapkan Rp290 ribu per titik dengan total 68 titik, atau senilai Rp19,72 juta.

“Mulai dari penarikan kabel sampai pemasangan perangkat,” ujar Rydyawan, Selasa (5/5/2026).

Ia menyebut pekerjaan berlangsung sejak Desember 2025 hingga Januari 2026. Dari total tersebut, progres diklaim telah mencapai 85 persen. Penarikan kabel disebut sudah rampung seluruhnya, sementara pemasangan perangkat baru terealisasi sebanyak 38 titik atau sekitar 56 persen.

Berdasarkan capaian itu, Rydyawan mengajukan tagihan sebesar Rp16,7 juta melalui invoice tertanggal 26 Januari 2026.

Namun, hingga kini ia baru menerima pembayaran Rp4 juta yang dicicil dalam tiga tahap. Sisa sebesar Rp12,7 juta, kata dia, belum juga dibayarkan.

“Sudah berkali-kali ditagih, tapi belum ada realisasi,” katanya.

Ia mengaku kerap mendapat janji pembayaran dalam waktu dekat, namun tidak pernah terealisasi. Selain itu, ia juga mengaku kesulitan menghubungi pihak yang bertanggung jawab saat melakukan penagihan.

Menurut Rydyawan, Alvan yang disebut sebagai pemodal proyek di CV Bangun Jaya Mandiri berulang kali menjanjikan pembayaran dalam waktu dekat, namun tak kunjung dipenuhi selama lebih dari empat bulan. Ia juga menyebut yang bersangkutan kerap sulit dihubungi.

Alasan yang diterima, lanjut dia, berkaitan dengan belum cairnya pembayaran proyek dari pihak dinas terkait.

“Saya bingung harus mengadu ke mana. Saya hanya ingin hak saya dipenuhi,” ujarnya.

Rydyawan juga menyebut rekannya, Umar, yang mengerjakan proyek lain di lokasi yang sama mengalami kondisi serupa, dengan sisa pembayaran sekitar Rp5 juta.

Kondisi ini memunculkan dugaan adanya persoalan dalam mekanisme pembayaran proyek tersebut, meski hal ini masih perlu dikonfirmasi kepada pihak terkait.

Akibat keterlambatan pembayaran, Rydyawan mengaku harus menutup biaya operasional proyek dan upah pekerja menggunakan dana pribadi. Ia bahkan menyebut sempat menjual dan menggadaikan aset untuk menutupi kebutuhan tersebut.

Saat dikonfirmasi, Darwin belum memberikan penjelasan rinci. Ia hanya merespons singkat, “Sebentar, nanti saya balas,” ujarnya.

Hingga berita ini diturunkan, pihak lain yang disebut dalam perkara ini, termasuk Alvan selaku pemodal CV Bangun Jaya Mandiri, belum memberikan keterangan resmi. Upaya konfirmasi masih terus dilakukan.***