SERANG, BANTENPRO.CO.ID – Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dindikbud) Kota Serang menyambut baik kerja sama dengan teach first indonesia, sebuah organisasi non-pemerintah (NGO) internasional yang beroperasi di 60 negara, untuk mendorong inovasi dan mengatasi disparitas pendidikan di Kota Serang.
Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dindikbud) Kota Serang, Achmad Nuri, menjelaskan bahwa Kota Serang terpilih menjadi bagian dari proyek perubahan ini. Program ini bertujuan untuk menumbuhkan talent-talent muda dan mengatasi permasalahan sekolah yang ia sebut kumuh dalam artian tidak terawat dan kekurangan guru.
“Hari ini Kota Serang dipilih menjadi bagian dari proyek perubahan dengan mulai pendidikan dan ada fellows-fellows yang akan dikirim,” ujar Achmad Nuri, pada Selasa (9/12/2025).
Ia menambahkan, di tengah disparitas pendidikan yang ada, program ini diharapkan dapat merekatkan kesenjangan antara sekolah di perkampungan dan di perkotaan.
Pada tahap awal, akan ada sekitar 15 guru sukarelawan (Fellows) yang didatangkan, dengan potensi penambahan hingga 100 atau bahkan 1.000, mencontoh sukses program serupa di India. Para Fellows ini akan ditempatkan di sekolah-sekolah dasar (SD) yang dikategorikan kumuh dan mengalami kekurangan guru di tiga kecamatan: Kasemen, Serang, dan Cipocok.
Achmad Nuri menjelaskan, makna ‘kumuh’ yang dimaksud bukan hanya rusak berat secara konstruksi, tetapi juga sekolah yang tidak dirawat, memiliki proses Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) yang kurang bagus, dan adanya penurunan semangat dari guru-guru setempat.
“Kumuh itu maknanya adalah tidak dirawat, kontruksinya tidak bersih, tidak sesuai dengan visi wali kota, tidak teratur, sampahnya berserakan,” jelasnya, sambil mencontohkan bahwa pengimbasan program ini harusnya membuat sekolah-sekolah yang awalnya tidak terawat menjadi bersih.
Lebih lanjut, program ini juga menekankan kolaborasi antara sekolah dan masyarakat melalui gagasan “sekolah untuk rakyat, rakyat untuk sekolah”, yang akan menggiring masyarakat untuk terlibat dalam kebersihan sekolah dan sekolah juga terlibat dalam kebersihan lingkungan.
“15 Fellows tahap awal akan diseleksi oleh Teach First Indonesia dari lulusan perguruan tinggi nasional ternama, seperti UI, UGM, Unibraw, serta universitas lokal yang memiliki syarat-syarat tertentu. Seleksi ini kini sedang dipersiapkan untuk breakdown dan dibuat PKS (Perjanjian Kerja Sama) di Dinas Pendidikan,” jelasnya.
Achmad Nuri membeberkan keuntungan bagi Kota Serang dari kerja sama yang akan dituangkan dalam MoU. Menurutnya, ada tiga poin utama yang menguntungkan. Pertama, para Fellows akan mengajar tanpa digaji oleh Pemerintah Kota Serang alias suka rela.
“Mereka dikhususkan untuk mengajar dengan kurikulum yang bersesuaian, seperti Kurikulum K-13, dengan pendekatan pre-planning yang membawa inovasi pembelajaran dari luar negeri. Proses ini akan diterapkan selama dua tahun, dengan evaluasi dilakukan setiap tiga bulan sekali untuk melihat progres KBM dan pengimbasannya kepada guru-guru,” paparnya.
Kedua lanjut Nuri, program ini tidak memberatkan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) karena semua biaya kedatangan dan operasional para Fellows ditanggung penuh oleh Teach First Indonesia.
Achmad Nuri optimis bahwa proses kolaborasi ini akan berjalan dengan rapi tanpa terjadi culture shock karena telah melalui sosialisasi yang matang. Ia juga berharap, setahun kemudian akan ada program pergantian guru, di mana guru dari 60 negara mitra dapat datang ke Serang, dan guru Serang pun berkesempatan menimba ilmu di luar negeri.
“Kita kerja itu harus kolaborasi, tidak kerja sendiri-sendiri. Kota Serang di bawah Pak Budi perlu kerjasama dengan nasional pun global,” tutupnya.***














