JAKARTA, BANTENPRO.CO.ID – Forum Ekonomi Kreatif (FEKRAF) Banten bergerak cepat mengawal masa depan industri kreatif di Tanah Jawara. Usai berdiskusi dengan Menko AHY di Serang akhir pekan lalu, pengurus FEKRAF Banten langsung menyambangi Menteri Ekonomi Kreatif, Teuku Riefky Harsya, di Autograph Tower, Jakarta Pusat, Senin (23/2/2026).
Pertemuan ini menjadi momen krusial bagi pelaku kreatif Banten untuk menyampaikan “jeritan” terkait hambatan ekosistem di daerah, mulai dari infrastruktur yang minim hingga optimalisasi aset pemda yang masih “tidur”.
Ketua Umum FEKRAF Banten, Muhammad Irfan Koyong, blak-blakan menyebut Banten saat ini sedang menghadapi krisis venue atau ruang pertunjukan berskala besar. Dampaknya fatal: banyak event nasional yang batal digelar di Banten.
“Keterbatasan ruang kegiatan membuat banyak potensi event nasional tidak bisa digelar di daerah. Akibatnya, perputaran uang dari tiket, kuliner, hingga perhotelan justru mengalir ke daerah tetangga,” ungkap Irfan dengan nada tegas.
Irfan juga menyentil banyaknya aset gedung dan lahan milik pemerintah daerah yang mangkrak dan tidak produktif. Ia mendorong revitalisasi aset-aset tersebut menjadi ruang kreatif yang aktif.
“Kami siap berkolaborasi untuk aktivasi ruang melalui kalender kegiatan sepanjang tahun. Jangan sampai aset pemda hanya jadi gedung tidur,” imbuhnya.
Merespons hal tersebut, Menteri Ekonomi Kreatif Teuku Riefky Harsya membawa kabar baik. Saat ini, pemerintah pusat tengah menggodok Rencana Induk Ekonomi Kreatif (Rindekraf) yang akan menjadi payung hukum sinkronisasi kebijakan pusat dan daerah.
“Rindekraf ini akan menjadi dasar penguatan kebijakan ekraf nasional melalui Perpres. Ini akan memastikan arah pengembangan ekraf lebih terarah,” jelas Teuku Riefky.
Tak hanya soal kebijakan, politisi Demokrat ini juga membeberkan adanya dukungan modal melalui Kredit Usaha Rakyat (KUR) industri kreatif berbasis Kekayaan Intelektual (KI).
“Kami siapkan plafon hingga Rp500 juta per pelaku usaha. Kami ingin asosiasi seperti FEKRAF menjadi mitra agar penyaluran KUR ini tepat sasaran menjangkau pelaku usaha di daerah,” tuturnya.
Teuku Riefky sepakat bahwa pembangunan infrastruktur ekonomi kreatif memiliki multiplier effect yang besar bagi ekonomi lokal. Ia menekankan bahwa ekosistem ini tidak bisa tumbuh sendirian tanpa dukungan komunitas.
“Ekonomi kreatif tumbuh dari komunitas. Jika ekosistem ini dibangun bersama, manfaatnya akan dirasakan langsung oleh daerah,” pungkasnya.
Audiensi ini diharapkan menjadi titik balik bagi lahirnya kebijakan konkret yang mampu menyulap potensi kreatif Banten menjadi mesin ekonomi baru yang membuka lapangan kerja luas.***












