Jumat, 17 April 2026

Siswa SMP di Tangsel Dihantam Kursi Besi saat Dibuli, Kondisi Kritis hingga Rabun

- Senin, 10 November 2025

| 15:42 WIB

Ilustrasi pencabulan (istimewa)

TANGSEL, BANTENPRO.CO.ID – Kasus dugaan perundungan (bullying) dengan kekerasan fisik kembali mencuat di lingkungan sekolah. Kali ini menimpa seorang siswa SMP Negeri 19 Tangerang Selatan berinisial MH (13). MH kini harus menjalani perawatan intensif di rumah sakit swasta akibat luka serius di kepala.

Berdasarkan keterangan Rizki, keluarga korban, insiden kekerasan tersebut terjadi pada 20 Oktober 2025 lalu di lingkungan sekolah. MH diduga menjadi korban pemukulan dengan benda tumpul.

“Adik saya kena korban pembullyan di SMPN 19 Tangsel. Bagian kepalanya dipukul pakai kursi sekolah yang besi. Sehari setelah itu dia baru ngadu ke keluarga karena sudah enggak kuat nahan sakit di kepalanya,” ungkap Rizki saat ditemui.

Kondisi MH saat ini memprihatinkan. Ia mengalami pelemahan tubuh, penglihatan menurun, sering pingsan, dan kesulitan makan akibat trauma di kepala.

“Sekarang sudah enggak bisa dibawa jalan, badannya lemas semua, mata sedikit rabun, sering pingsan dan enggak mau makan,” kata Rizki.

Rizki mengungkapkan bahwa keluarga sempat mencapai kesepakatan dengan pihak terduga pelaku untuk menanggung seluruh biaya pengobatan. Namun, komitmen tersebut hanya dipenuhi satu kali. Keluarga pelaku kemudian berdalih belum memiliki uang untuk biaya pengobatan selanjutnya.

“Awalnya pihak pelaku menyetujui biaya pengobatan sampai sembuh, tapi untuk pengobatan sekarang ini tidak kasih biaya lagi ke korban. Malah pihak keluarga korban yang disuruh cari pinjaman uang dulu sama pelaku, nanti diganti sama keluarga pelaku,” jelasnya.

Situasi ekonomi keluarga korban diketahui terbatas, di mana ibu MH sendiri rutin menjalani cuci darah akibat penyakit ginjal.

Pihak keluarga juga menyesalkan sikap SMPN 19 Tangerang Selatan yang dinilai lamban dan terkesan lepas tangan dalam menangani masalah ini.

“Pihak sekolah pun lepas tangan, tidak mau tanggung jawab sama masalah ini, pernah datang ke sini setelah dua hari kejadian tapi setelah itu tidak ada kabar, kemudian baru datang lagi hari ini (10 November 2025),” ungkap Rizki dengan nada kesal.

Keluarga berharap Pemerintah Kota Tangerang Selatan, terutama Dinas Pendidikan dan DP3AP2KB, segera turun tangan untuk memastikan penanganan medis dan proses hukum berjalan transparan dan adil.

“Kami ingin MH kembali sehat, tapi itu kan butuh biaya yang banyak,” ujar Rizki, sekaligus berharap adanya evaluasi pengawasan sekolah, termasuk pemasangan CCTV di ruang kelas sebagai alat bukti pencegahan perundungan.***