SERANG, BANTENPRO.CO.ID – Wakil Gubernur Banten, Dimyati Natakusuma, menggarisbawahi kegagalan kecerdasan emosional atau emotional quotient (EQ) Kepala Sekolah SMAN 1 Cimarga sebagai penyebab utama insiden penamparan siswa. Menurut Dimyati, seorang pendidik senior harus mampu menahan diri, terlepas dari kenakalan siswa.
“Jadi kan karena emotional quotient—kecerdasan emosional—apalagi spiritualnya, emotional quotient-nya aja tidak mumpuni. Nah kita enggak tahu intelligence quotient-nya, kecerdasan intelektualnya ada enggak,” kritik Dimyati, Selasa (14/10/2025).
Ia menegaskan bahwa tindakan menampar atau memukul sama sekali tidak pantas dilakukan oleh seorang pendidik. Dimyati bahkan memberikan analogi kartu merah dalam sepak bola, di mana kekerasan fisik, meskipun dipicu provokasi, tetap dilarang.
“Orang nampar, mukul, enggak boleh. Main bola coba, ya kartu merah… Enggak bisa. Tetap ya harus betul-betul sabar,” ujarnya.
Dimyati menyatakan kekerasan justru kontraproduktif dalam mendidik. “Cara mendidik itu bukan memukul. Malah memukul itu mendidik yang salah. Dia akan anarkis, akan destruktif nanti ke depan,” tambahnya.
Wagub Banten melihat kasus ini sebagai momentum untuk reformasi sekolah. Ia ingin memastikan kasus ini tidak membuat guru lain malas menegur siswa nakal, melainkan menjadi pelajaran untuk menggunakan pendekatan yang lebih sabar dan non-kekerasan.
“Ini adalah sebuah upaya memperbaiki reformasi sekolah. Kita juga melihat nanti, ini anak-anak ini ada kelainan jiwa enggak, atau gurunya ada kelainan jiwa enggak. Nah itu nanti ada psikologi. Jadi betul, bukan hanya makanan bergizi gratis saja yang harus quality control. Di sekolah juga ada quality control,” pungkasnya, sembari mengusulkan adanya muatan lokal seperti mengaji untuk memperkuat akhlak siswa.***













