SERANG, BANTENPRO.CO.ID – Lingkungan pendidikan di SMA Negeri 4 Kota Serang, Kelurahan Kasemen, Kecamatan Kasemen, tengah diguncang isu miring. Sejumlah alumni angkat bicara, membenarkan adanya dugaan skandal, mulai dari pelecehan seksual oleh oknum guru hingga praktik pungutan liar (pungli) dan masalah lain yang sebelumnya diungkap akun anonim di media sosial.
Seorang alumni yang enggan disebutkan namanya mengungkapkan keprihatinannya. Ia mengaku sempat berkomunikasi dengan alumni dari angkatan berbeda terkait isu yang sedang ramai.
“Dari komunikasi itu, saya ingat kejadian di era saya ada oknum guru laki-laki yang bahkan sampai melecehkan murid laki-laki. Nah, kalau yang sekarang, saya dengarnya ke siswa perempuan,” ujarnya kepada wartawan, Senin 7 Juli 2025.
Alumni tersebut menyayangkan terulangnya dugaan pelecehan seksual ini dan membenarkan kesan bahwa pihak sekolah selama ini menutup-nutupi kasus tersebut, alih-alih melindungi korban.
“Dari informasi terakhir, oknum guru cabul itu sudah keluar. Memang dia kemayu. Yang saya sesalkan tidak ada penindakan,” katanya. Ia menambahkan bahwa di angkatannya pun ada korban pencabulan, dan kemungkinan oknum guru yang dipermasalahkan saat ini berbeda.
Tudingan lain yang diungkap adalah terkait kegiatan ekstrakurikuler (ekskul) yang dibiarkan mati tanpa pembinaan dan pembiayaan. Menurut alumni, hal ini aneh mengingat SMA Negeri 4 Kota Serang memiliki program ‘One Day One Thousand’ (ODOT), di mana siswa diwajibkan membayar iuran seribu rupiah per hari.
“Bahkan ada wali kelas yang memaksa kami bayar Rp2 ribu,” bebernya.
Dari informasi yang didapatkannya, 60 persen dana ODOT seharusnya dialokasikan untuk pembangunan masjid sekolah, sementara 40 persen untuk wakil kepala sekolah, yang disebutnya untuk pembinaan dan pengelolaan ekskul. “Entah dananya dikemanain,” katanya mempertanyakan.
Ia melanjutkan, “Ini ada hubungannya juga sama beberapa guru honorer yang merangkap sebagai pembina, namun dana tersebut gak pernah diberi untuk lomba ekskul tersebut. Bahkan murid yang gabung ekskul saja sampai berinisiatif jualan sama minta sumbangan ke anggota ekskul, biasanya pas mau lomba,” katanya.
Selain itu, ia juga mengungkap adanya kewajiban pembelian buku Lembar Kerja Siswa (LKS) serta iuran buku sumbangan untuk perpustakaan sekolah. “Angkatan saya waktu itu ada kewajiban buat bayar buku di perpustakaan. Sebenarnya banyak keluhan-keluhan kami, cuma gak bisa bersuara, ditekan soalnya, bahkan OSIS-nya juga ditekan,” ungkapnya.
Mengenai tudingan sikap intoleransi sekolah, alumni tersebut tidak bisa berkomentar banyak. Namun, akun @savesmanfourkotser sebelumnya menyebutkan bahwa sikap intoleransi sekolah disebabkan larangan bagi OSIS untuk memposting ucapan kenaikan Isa Al-Masih. Pemantauan Bantenpro.co.id di akun Instagram resmi sekolah, @sman4kotasrg, memang tidak ditemukan ucapan terkait hari besar agama tersebut.
Terakhir, terkait fasilitas, alumni tersebut membeberkan bahwa masalah ini kerap menjadi keluhan murid. Mereka terpaksa diam dan mengeluhkan suasana kelas yang panas. “Iya itu dari dulu, panas, gak ada kipas sama sekali, meja-meja, kaca-kaca pada bolong, tak ada pergantian atau perbaikan sama sekali,” tegasnya.
Wartawan telah berupaya mengonfirmasi hal ini kepada pihak sekolah. Melalui pesan chat WhatsApp.***













