Senin, 25 Mei 2026

PRIMA Apresiasi Diplomasi Ekonomi Prabowo, Dorong Perdagangan Berkeadilan

- Jumat, 18 Juli 2025

| 13:40 WIB

SERANG, BANTENPRO.CO.ID – Partai Rakyat Adil Makmur (PRIMA) menyambut baik langkah diplomasi ekonomi Presiden Prabowo Subianto yang berhasil menurunkan tarif ekspor produk nasional ke Amerika Serikat. Penurunan tarif dari 32 persen menjadi 19 persen dinilai sebagai capaian strategis untuk meningkatkan daya saing industri dalam negeri di pasar global.

Bendahara Umum Dewan Pimpinan Pusat (DPP) PRIMA, Achmad Herwandi, mengatakan kebijakan ini menjadi “angin segar” bagi sektor padat karya seperti tekstil, alas kaki, karet, dan furnitur.

“Ini bukan hanya soal tarif, tapi soal masa depan industri kita,” kata Herwandi dalam keterangan tertulisnya, Kamis, 18 Juli 2025.

“Dengan tarif yang lebih kompetitif, produk Indonesia akan lebih unggul di pasar Amerika dibandingkan negara tetangga seperti Vietnam dan Thailand,” sambungnya.

Data Kementerian Perdagangan menunjukkan, nilai ekspor Indonesia ke AS pada 2024 mencapai US$ 15,5 miliar. Empat sektor utama penyumbang ekspor adalah tekstil (US$ 4,2 miliar), alas kaki (US$ 2,8 miliar), produk karet (US$ 1,6 miliar), dan furnitur (US$ 1,2 miliar). Keempat sektor ini menyerap lebih dari enam juta tenaga kerja langsung di berbagai daerah di Indonesia.

Herwandi memproyeksikan pertumbuhan ekspor ke AS sebesar 10–15 persen per tahun dapat memberikan efek berlipat ganda. “Jika ekspor bertambah US$ 2 miliar per tahun, kita berpotensi membuka hingga 300 ribu lapangan kerja baru di sektor manufaktur dan logistik,” ujarnya.

Selain membuka lapangan kerja, kebijakan ini juga disebut berdampak pada sektor hulu dan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM). Kenaikan permintaan ekspor akan mendorong pertumbuhan industri pendukung seperti benang, kulit, kayu, dan jasa transportasi. Wilayah seperti Bandung, Jepara, Solo, dan Medan diprediksi akan merasakan dampaknya.

Ia juga menyoroti peran sektor tekstil dan alas kaki yang banyak menyerap tenaga kerja perempuan dan muda. “Lebih dari 60 persen pekerja di sektor ini adalah perempuan, dan sebagian besar berusia 18–35 tahun. Ini peluang besar untuk mengurangi angka pengangguran muda yang saat ini masih tinggi,” kata Herwandi.

Namun, PRIMA juga menyoroti pentingnya kebijakan imbal balik, yakni pembebasan tarif impor produk AS ke Indonesia. Herwandi menilai kebijakan ini perlu diiringi penguatan industri dalam negeri. “Kita tidak boleh hanya menjadi pasar. Tarif nol persen harus dimanfaatkan untuk mendorong efisiensi, menarik investasi, dan meningkatkan kualitas produk lokal,” tegasnya.

Menurut Herwandi, tarif nol persen membuka peluang bagi industri lokal untuk mendapatkan barang modal dan bahan baku lebih murah. Namun, jika tidak diimbangi dengan perlindungan sektor sensitif, industri yang belum siap bersaing bisa tertekan. “Pemerintah harus hadir dengan kebijakan insentif, pelatihan tenaga kerja, dan dukungan teknologi,” katanya.

PRIMA melihat potensi relokasi pabrik asing ke Indonesia juga semakin terbuka. Dengan tarif ekspor yang lebih rendah dari negara ASEAN lain, Indonesia bisa menjadi basis produksi baru bagi perusahaan multinasional yang ingin keluar dari Vietnam atau Tiongkok.

“Kita harus manfaatkan momen ini untuk mendorong industrialisasi nasional dan memperluas lapangan kerja formal. Relokasi produksi bisa menjadi batu loncatan menuju kemandirian industri,” tutur Herwandi. 

Meski demikian, PRIMA mengingatkan agar strategi ini tidak hanya menguntungkan pihak asing. “Kebijakan perdagangan harus adil, setara, dan berpihak pada rakyat. Jangan sampai industri kecil dan menengah kita kalah bersaing karena kurang dukungan,” ujarnya.

Herwandi menegaskan, PRIMA mendukung penuh arah diplomasi ekonomi Presiden Prabowo, asalkan diiringi kebijakan yang inklusif. “Ini strategi cerdas, tapi harus dijaga agar berkelanjutan. Pemerintah perlu hadir mengawal agar dampaknya merata, adil, dan tidak mencederai pelaku usaha lokal,” pungkasnya.***

2