Jumat, 12 Juni 2026

Banjir Jadi Tamu Rutin SDN Pamarican 2: Antara Program SPAB dan Jeritan Minta Perhatian Pemerintah

- Rabu, 23 Juli 2025

| 16:02 WIB

SERANG, BANTENPRO.CO.ID – Sekolah Dasar Negeri (SDN) Pamarican 2 di Kota Serang menjadi salah satu sekolah yang menjadi sasaran program Satuan Pendidikan Aman Bencana (SPAB) yang digagas oleh Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Serang.

Program ini disambut baik pihak sekolah, terutama karena SDN Pamarican 2 seringkali menjadi langganan banjir setiap musim hujan tiba.

Kepala SDN Pamarican 2, Subhi, mengungkapkan rasa bangganya karena sekolahnya dipilih untuk kegiatan sosialisasi SPAB. “Alhamdulillah, terima kasih saya ucapkan kepada Ketua Pelaksana BPBD Kota Serang, Bapak H. Diyat Hermawan, yang sudah terjun ke SD kami. Ternyata memilih SD kami untuk dijadikan kegiatan sosialisasi SPAB,” ujar Sunhi, Rabu 23 Juli 2025.

Menurut Subhi, kegiatan ini sangat bermanfaat bagi siswa dan guru, terutama dalam menghadapi banjir yang memang setiap tahun melanda sekolah mereka. “Anak-anak dan gurunya, terutama anak-anak, punya gambaran bagaimana cara mengatasi terjadinya banjir karena memang setiap tahun di sini ini langganan banjir ketika musim hujan,” tambahnya.

Meski banjir rutin terjadi, Subhi menjelaskan bahwa kegiatan belajar mengajar (KBM) tetap dilaksanakan. Namun, genangan air di dalam kelas bisa mencapai mata kaki, sementara di luar kelas bisa lebih dalam karena posisi sekolah yang lebih rendah dari saluran air.

“Untuk yang setiap tahun itu tetap dilaksanakan KBM walaupun masuk tapi tidak seberapa hanya sebatas masuknya di dalam kelas hanya sebatas semata kaki. Kalau di luar mungkin lebih dalam karena memang lebih rendah,” jelas Sunhi.

Kondisi ini membuat pembelajaran kurang efektif di sekolah. Oleh karena itu, untuk mencegah hal tersebut, siswa seringkali diberi pelajaran sebagai tugas di rumah. “Karena kalau di sini terus mungkin tidak akan belajar efektif karena anak main becek-becekan,” katanya.

Ditanya apakah sekolah diliburkan, Subhi menegaskan tidak ada libur. “Enggak diliburkan, tapi tetap masuk. Tapi setiap hari nanti setelah masuk absen diberi tugas baru belajar di rumah,” imbuhnya.

Banjir Akibat Minimnya Pembuangan Air dan Posisi Sekolah yang Rendah

Banjir terakhir yang menggenang di SDN Pamarican 2 terjadi saat hujan lebat baru-baru ini.

“Pokoknya setiap musim hujan apalagi beruntun setiap malam hujan itu pasti akan masuk ke kelas,” katanya.

Penyebab utama banjir, menurut Subhi, adalah air hujan yang melimpah dan tidak adanya pembuangan air yang memadai. “Yang jelas penyebabnya itu dari air hujan, kemudian pembuangan enggak ada, posisi kita di bawah rendah dari saluran air,” terangnya.

Selain itu, penyerapan air dari belakang sekolah, yang merupakan rumah warga, juga menjadi masalah karena tidak ada saluran pembuangan. Air justru meresap ke dalam tanah dan muncul di dalam sekolah. “Penyerapan dari belakang tidak ada pembuangan. Rumah warga heeh terus enggak ada pembuangan sehingga air itu mengalir ke sini walaupun tidak langsung itu menyerup penyerapan. Penyerapan dari bawah tanah ya,” jelasnya.

Bahkan, Subhi pernah menolak program sumur resapan karena menilai itu justru akan memperparah kondisi. “Makanya waktu itu juga ada program sumur resapan. Saya tolak. Pas saya enggak mesti resapan di sini mah. Justru kalau resapan itu bukan mengurangi air tapi mengeluarkan air,” tegasnya.

Dampak banjir juga dirasakan pada fasilitas sekolah. “Meubel alhamdulillah setiap tahun membeli 10-10 aja dikredit,” katanya, menunjukkan bahwa pihak sekolah harus terus mengeluarkan biaya untuk mengganti perabotan yang rusak akibat banjir.

Melihat kondisi ini, Subhi sangat berharap adanya perhatian serius dari Pemerintah Kota Serang. “Harapannya sih mudah-mudahan ada perhatian dari pemerintah Kota Serang supaya bagaimana caranya supaya sekolah kita ini tidak mengalami hal yang demikian setiap tahun gitu,” harapnya.

Ia menambahkan, “Harapannya tadi itu, artinya mudah-mudahan ada perhatian dari pemerintah kota sehingga tidak akan terjadi hal yang demikian lagi setiap tahun, tidak ada genangan setiap tahun musim hujan, belajar selalu berjalan dengan efektif,” tutupnya.***

2