SERANG, BANTENPRO.CO.ID – Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap Dolar Amerika Serikat (AS) yang terus merosot hingga mendekati level Rp18.000 per satu dolar menjadi perhatian serius berbagai kalangan. Kondisi ini dinilai bukan hanya dipicu oleh faktor domestik, melainkan juga akibat tekanan ekonomi serta ketegangan geopolitik global yang masih berlangsung hingga saat ini.
Pengamat Ekonomi dari Universitas Muhammadiyah Tangerang (UMT), Muljadi, mengatakan bahwa penguatan nilai Dolar AS terjadi seiring meningkatnya minat investor global untuk menyimpan aset keuangan mereka dalam mata uang tersebut. Salah satu pemicu utamanya adalah kebijakan suku bunga tinggi yang diterapkan oleh bank sentral Amerika Serikat, Federal Reserve (The Fed).
“Ketika suku bunga di Amerika tinggi, investor lebih tertarik menempatkan dananya dalam Dolar karena dianggap lebih aman dan menguntungkan. Akibatnya permintaan terhadap Dolar meningkat dan nilai mata uang tersebut terus menguat terhadap mata uang negara lain, termasuk Rupiah,” ujar Muljadi kepada Bantenpro, Senin (8/6/2026).
Menurutnya, kondisi tersebut semakin diperburuk oleh ketidakstabilan geopolitik di kawasan Timur Tengah yang berdampak langsung terhadap jalur perdagangan dan distribusi energi dunia. Ketegangan di wilayah tersebut memicu lonjakan harga minyak mentah dunia, yang kemudian memberikan tekanan berat bagi negara-negara pengimpor energi, termasuk Indonesia.
“Indonesia saat ini masih sangat bergantung pada impor untuk memenuhi sebagian besar kebutuhan energinya. Ketika harga minyak naik dan seluruh transaksi harus menggunakan Dolar AS, maka kebutuhan akan mata uang asing tersebut ikut melonjak. Di saat yang bersamaan, posisi Rupiah pun semakin tertekan,” jelasnya.
Muljadi menambahkan, dampak dari menguatnya Dolar AS tidak hanya dirasakan pada sektor energi semata, namun juga telah menjalar ke berbagai sektor ekonomi lainnya. Ia mencontohkan, masih banyak industri dalam negeri – termasuk pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) – yang sangat bergantung pada bahan baku impor yang pembayarannya harus menggunakan mata uang asing.
“Mulai dari kedelai, bahan baku plastik, hingga berbagai kebutuhan industri lainnya masih banyak yang harus diimpor. Saat nilai Dolar naik, otomatis biaya produksi menjadi meningkat. Akhirnya, harga barang-barang di pasaran dalam negeri pun ikut terdorong naik,” ungkapnya.
Kondisi tersebut, lanjut Muljadi, berpotensi besar menekan daya beli masyarakat. Pasalnya, kenaikan biaya produksi tersebut pada akhirnya akan dibebankan ke harga kebutuhan sehari-hari. Oleh karena itu, ia menekankan pemerintah harus segera memperkuat perlindungan terhadap sektor riil, khususnya para pelaku UMKM yang dinilai paling rentan terhadap gejolak nilai tukar.
“UMKM harus menjadi perhatian utama karena mereka berada di garda terdepan perekonomian rakyat. Pemerintah wajib memberikan dukungan nyata agar para pelaku usaha ini tetap mampu bertahan di tengah mahalnya harga bahan baku dan tekanan ekonomi global yang belum menentu ini,” tegasnya.
Meski sedang menghadapi tekanan eksternal yang cukup berat, Muljadi menilai fundamental ekonomi Indonesia sebenarnya masih relatif terjaga dengan baik. Hal ini terlihat dari kemampuan pemerintah dalam mempertahankan stabilitas harga Bahan Bakar Minyak (BBM) melalui kebijakan subsidi yang diterapkan.
“Selama pemerintah masih mampu menjaga harga BBM tetap stabil, itu menjadi indikasi bahwa daya tahan ekonomi nasional masih cukup kuat. Jika harga BBM dilepas sepenuhnya mengikuti mekanisme pasar internasional, dampaknya akan sangat terasa dan langsung menghantam seluruh sektor ekonomi dalam waktu singkat,” katanya.
Sebagai solusi jangka panjang, Muljadi menekankan pentingnya percepatan program hilirisasi industri. Langkah ini dinilai krusial untuk mengurangi ketergantungan terhadap pola ekspor bahan mentah sekaligus mengurangi impor barang jadi. Menurutnya, peningkatan nilai tambah pada produk dalam negeri menjadi kunci utama dalam memperkuat ketahanan ekonomi nasional.
“Kita harus memperbanyak industri pengolahan di dalam negeri sehingga komoditas yang diekspor sudah memiliki nilai jual yang tinggi. Dengan cara ini, pemasukan devisa negara akan meningkat, lapangan kerja bertambah banyak, dan ketergantungan kita terhadap Dolar dapat dikurangi secara bertahap,” pungkasnya.
Lebih jauh, Muljadi berpendapat bahwa penguatan ekonomi nasional membutuhkan langkah-langkah berkelanjutan. Mulai dari peningkatan kapasitas produksi dalam negeri, pengurangan ketergantungan impor, hingga penguatan daya saing industri nasional agar mampu bertahan di tengah ketidakpastian ekonomi global yang terus berubah.***















