SERANG, BANTENPRO.CO.ID – Di sebuah rumah reot yang dindingnya dimakan usia, di sudut Lingkungan Karundang Kolektor, Kota Serang, tersimpan mimpi besar dua bocah, bernama Ardi dan Holikul Amin.
Di tengah impitan ekonomi yang mencekik, impian mereka untuk terus mengenyam bangku sekolah kini seolah berada di ujung tanduk, bergantung pada selembar kertas penetapan Sekolah Rakyat.
Ditinggal pergi kedua orang tua yang entah ke mana, Ardi dan Holikul kini hanya bisa menggantungkan hidup pada pundak renta sang nenek, Bu Wacih. Wanita tua itu harus memeras keringat, berjuang sendirian mengasuh cucunya di tengah kondisi rumah yang memprihatinkan.
“Saya tidak bisa membiayai sekolah mereka. Harapan saya, Ardi dan Holikul diterima di Sekolah Rakyat supaya tetap bisa sekolah, jadi anak pintar dan saleh,” ucap Bu Wacih dengan suara bergetar, menahan sesak di dada.
Ada air mata yang tertahan saat ia berujar, “Saya ingin mereka jadi orang sukses, jangan seperti neneknya yang hidup serba kekurangan.”
Namun, jalan menuju ruang kelas tidaklah mudah. Administrasi kependudukan menjadi tembok penghalang. Ardi yang sudah lama hidup dalam asuhan neneknya, secara administratif masih tersangkut di Kartu Keluarga (KK) orang tuanya yang telah bercerai—sebuah kondisi yang membuat status ekonominya dianggap “lebih mampu” (desil 3) dibanding persyaratan Sekolah Rakyat (desil 1 atau 2).
Farhah Syibli, pendamping PKH yang telah mendampingi keluarga ini sejak Mei, mengungkapkan betapa getirnya realita di lapangan. “Kondisi riilnya, mereka sangat rentan putus sekolah. Ardi nyaris menyerah karena biaya, dan Holikul pun berada di ambang risiko yang sama,” ujar Farhah.
Hingga kini, nasib keduanya masih terkatung-katung menunggu verifikasi. Di tengah ketidakpastian itu, Ardi hanya bisa berbisik lirih, berharap kursi di Sekolah Rakyat bisa menjadi jembatan baginya untuk tidak lagi membebani sang nenek.
“Saya memilih Sekolah Rakyat karena nenek tidak mampu… saya hanya ingin terus belajar dan jadi orang sukses,” tutur Ardi dengan tatapan penuh harap.
Kini, di balik dinding-dinding kayu yang lapuk, Bu Wacih hanya bisa menengadahkan tangan. Menunggu kabar baik dari pihak berwenang, berharap cucu-cucunya tidak harus berhenti melangkah hanya karena angka-angka data yang belum berpihak pada kemiskinan mereka.***













