Senin, 13 Juli 2026

Status Siaga, PVMBG Pastikan Erupsi Anak Krakatau Saat Ini Berbeda dengan 2018

- Senin, 13 Juli 2026

| 11:59 WIB

Pengamat Gunung Api PVMBG Pos Pengamatan Gunung Api Anak Krakatau di Desa Pasauran, Kecamatan Cinangka, Kabupaten Serang, Deny Mardiono A

SERANG, BANTENPRO.CO.ID – Gunung Anak Krakatau saat ini masih berstatus Level III (Siaga). Meski aktivitas vulkanik terpantau tinggi, Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) meminta warga tetap tenang dan tidak termakan hoaks.

Pengamat Gunung Api di Pos Pasauran, Deny Mardiono A., menjelaskan bahwa aktivitas kegempaan masih didominasi gempa vulkanik. Berdasarkan data per 8 Juli 2026, tercatat tujuh kali gempa letusan, satu gempa tektonik lokal, dan dua tremor harmonik.

“Status Gunung Anak Krakatau sampai saat ini masih Siaga. Masyarakat maupun wisatawan dilarang mendekat atau mendarat dalam radius tiga kilometer dari kawah aktif,” ujar Deny kepada wartawan, Senin (13/7/2026).

Deny memahami kekhawatiran warga pesisir yang masih trauma dengan tsunami Selat Sunda 2018. Namun, ia menegaskan kondisi saat ini jauh berbeda dibandingkan peristiwa delapan tahun lalu.

Ia menjelaskan, tsunami 2018 dipicu oleh longsoran tubuh gunung akibat akumulasi aktivitas erupsi selama berbulan-bulan. Sementara saat ini, erupsi yang terjadi bersifat bertahap dan melepaskan energi secara perlahan.

“Amplitudo kegempaan masih rendah dan tinggi kolom erupsi maksimal hanya 250 meter. Jadi, energi letusannya belum sebesar saat menjelang bencana 2018,” terang Deny.

Selain soal erupsi, Deny juga menepis rumor yang mengaitkan gempa tektonik di wilayah Sumur, Pandeglang, dengan aktivitas Anak Krakatau. Menurutnya, tidak ada bukti ilmiah yang menunjukkan gempa tektonik jarak jauh dapat memicu erupsi gunung api tersebut.

“Gempa tektonik tidak berpengaruh atau tidak memengaruhi aktivitas Gunung Anak Krakatau. Jadi, kejadian di Sumur tidak berkaitan,” tegasnya.

Pihak PVMBG terus melakukan edukasi kebencanaan, terutama kepada kalangan pelajar di wilayah pesisir. Meski simulasi evakuasi menjadi kewenangan pemerintah daerah (BPBD), PVMBG memastikan pemantauan terus dilakukan 24 jam.

Deny menyebut, masyarakat kini sudah lebih edukatif dalam memahami karakter gunung api dibandingkan sebelumnya. Ia mengimbau agar warga selalu merujuk pada informasi resmi dari pemerintah dan tidak mudah percaya pada isu-isu yang tidak bisa dipertanggungjawabkan.

“Warga memang masih ada trauma, tapi sekarang mereka lebih paham bahwa erupsi adalah proses alami gunung api. Tetap tenang dan selalu koordinasi dengan pemerintah daerah atau BPBD untuk informasi resmi,” pungkasnya.***

2