Sabtu, 20 Juni 2026

Tampar Siswa Ketahuan Merokok, Kepala SMAN 1 Cimarga Dilaporkan ke Polisi

- Selasa, 14 Oktober 2025

| 12:34 WIB

LEBAK, BANTENPRO.CO.ID – Peristiwa dugaan kekerasan yang melibatkan Kepala SMA Negeri 1 Cimarga, DF (Dini Fitria), terhadap salah satu muridnya kini berlanjut ke ranah hukum. Orang tua siswa yang menjadi korban, Tri Indah Alesti, telah melaporkan kejadian penamparan tersebut ke Mapolres Lebak.

Tri Indah Alesti terlihat mendatangi Mapolres Lebak bersama sang anak untuk membuat laporan resmi. Indah membenarkan bahwa anaknya menjadi korban kekerasan oleh Kepala Sekolah SMAN 1 Cimarga, Dini Fitria.

“Kasus ini sudah ditangani oleh pengacara, jadi saya tidak bisa memberikan berita apapun,” kata Indah, singkat.

Kanit PPA Satreskrim Polres Lebak, IPDA Limbong, membenarkan adanya laporan terkait kekerasan fisik yang dialami salah satu siswa SMAN 1 Cimarga. Laporan tersebut diterima pada Jumat (13/10/2025).

“Laporan sudah diterima pada Jumat,” ujar Limbong saat dihubungi, Selasa (14/10/2025).

Limbong menerangkan bahwa saat ini kasus tersebut masih dalam tahap penyelidikan. Pihak kepolisian telah meminta keterangan dari sejumlah saksi.

“Dua orang yang sudah dimintai keterangan, ibu korban dan korban, nanti saksi-saksi yang lainnya,” terang Limbong.

Lebih lanjut, Limbong menyatakan pihaknya akan segera melakukan olah tempat kejadian perkara (TKP) sambil menunggu hasil visum korban keluar. “Kita mau ke lokasi juga, visumnya belum keluar kita masih tunggu hasil visum,” tandasnya.

Kasus ini bermula ketika Kepala SMA Negeri 1 Cimarga, Dini Vitria, memergoki salah seorang siswa kelas 12 merokok di area sekolah. Saat siswa tersebut tidak mengakui perbuatannya, Dini secara spontan menampar pipi siswa tersebut.

DF, sang Kepala Sekolah, mengakui perbuatannya. Namun, ia mengklaim tamparan itu dilakukan secara pelan sebagai bentuk pendekatan tegas untuk mendisiplinkan anak didiknya.

Pihak keluarga siswa yang merasa tidak terima dengan tindakan kekerasan tersebut kemudian melaporkan DF ke polisi.

Reaksi atas insiden ini juga meluas di lingkungan sekolah. Pasca penamparan, sebanyak 630 siswa sekolah tersebut dilaporkan melakukan aksi mogok sekolah pada Senin, 13 Oktober 2025. Aksi ini menjadi indikasi ketidakpuasan siswa terhadap tindak kekerasan yang dilakukan oleh pimpinan sekolah.***

2