SERANG, BANTENPRO.CO.ID – Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dindikbud) Kota Serang tengah mengkaji rencana penggabungan atau merger SDN Pamarican 1 dan SDN Pamarican 2. Selain faktor banjir yang kerap merendam bangunan sekolah, efisiensi jumlah siswa menjadi alasan utama rencana tersebut.
Kepala Dindikbud Kota Serang, Achmad Nuri, mengungkapkan bahwa hingga saat ini SDN Pamarican masih tergenang air sehingga belum bisa melaksanakan Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) secara luring (luar jaringan). Kondisi ini kontras dengan SMPN 25 yang sudah mulai beraktivitas normal setelah sempat menerapkan Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ).
“SDN Pamarican sampai sekarang memang sulit surut karena posisi belakangnya rawa. Saat ini saluran air sedang dinormalisasi dan sudah dianggarkan untuk pembangunan melalui mekanisme lelang,” ujar Nuri, Rabu, 7 Januari 2026.
Nuri menjelaskan, jika dalam beberapa hari ke depan kondisi sekolah belum memungkinkan untuk ditempati, pemerintah daerah akan mengambil kebijakan relokasi. Para siswa kemungkinan besar akan dititipkan di sekolah terdekat agar tetap bisa mendapatkan akses tatap muka.
“Jika besok belum surut, kita akan buat kebijakan relokasi ke beberapa sekolah terdekat agar KBM tatap muka tetap bisa berjalan,” katanya.
Wacana merger kedua sekolah ini menguat mengingat jumlah siswa yang dianggap terlalu sedikit. Nuri menyebutkan, SDN Pamarican 2 saat ini hanya memiliki sekitar 234 siswa dan SDN Pamarican 1 hanya 198. Jika digabungkan, total siswa dari kedua sekolah hanya mencapai 400 orang lebih.
Menurut Nuri, penggabungan ini akan membuat operasional sekolah dan proses KBM menjadi lebih efektif. Lokasi kedua sekolah yang saling berdekatan (berhimpit) juga dinilai memudahkan proses integrasi.
“Lagi ada kajian di internal kami. Hasil kajian dari Dinas Pendidikan ini nantinya akan disampaikan untuk kemudian dieksekusi. Kami targetkan sebelum pelantikan kepala sekolah yang baru, hasil kajian dan penerapan merger ini sudah selesai,” tutur Nuri.
Nuri berharap normalisasi saluran dan rencana penataan ulang ini menjadi solusi permanen agar aktivitas pendidikan tidak terus terganggu setiap musim penghujan.***













