Rabu, 29 April 2026

Syeikh Yusuf: Fajar yang Menolak Tunduk di Tanah Pembuangan

- Rabu, 29 April 2026

| 07:59 WIB

Dekan FKIP Untirta berpose bersama Menteri Kebudayaan Fadli Zon disela-sela Diskusi dan Peringatan 400 Tahun Syekh Yusuf Al-Makassari di Museum Kepurbakalaan Banten Lama, Selasa 28 April 2025. (Foto: Istimewa)

Oleh: Dr. H. Fadlullah, S.Ag., M.Si. (Dekan FKIP UNTIRTA)

MAKASSAR melahirkan kesadaran spiritual Syekh Yusuf. Banten mengasahnya dalam gelanggang perlawanan. Di Tanah pengasingan Cape Town menjadikannya warisan yang tak bisa dibungkam oleh kolonialisme.

Tahun 1694, kapal VOC De Voetboog merapat di Tanjung Harapan. Di atasnya berdiri seorang ulama yang dibuang karena dianggap berbahaya: Syekh Yusuf Al-Makassari. Ia bukan penjahat, melainkan ancaman bagi kolonialisme. VOC tidak mengasingkannya karena kesalahan, tetapi karena pengaruhnya—karena ia mengajarkan iman yang melahirkan keberanian, dan ilmu yang membongkar penindasan.

Ia tidak datang sendiri. Bersamanya hadir keluarga, istri-istri, anak-anak, serta puluhan murid setia—sebagian terhubung dengan jejaring perjuangan di Banten, tanah yang telah lama menjadi pusat resistensi terhadap VOC. Mereka menolak tunduk pada logika penjajah, memilih pengasingan daripada berpisah dari kebenaran. Di sinilah letak kekuatan yang gagal dipahami VOC: Syekh Yusuf bukan individu, melainkan simpul dari jaringan iman lintas wilayah.

Zandvliet dipilih sebagai tempat pembuangan: sunyi, terisolasi, dan jauh dari pusat kekuasaan. Kolonialisme selalu percaya bahwa jarak dapat mematikan pengaruh. Namun sejarah berkali-kali membuktikan sebaliknya—pengasingan justru melahirkan pusat perlawanan baru. Di tanah ini, strategi VOC runtuh oleh keteguhan yang tak bisa diukur dengan kekuatan militer.

Syekh Yusuf tidak melawan dengan senjata, tetapi dengan membangun. Ia mengubah tanah buangan menjadi ruang hidup yang bermakna: rumah sebagai tempat ibadah, alam sebagai madrasah, dan komunitas sebagai benteng moral. Di tengah keterasingan, ia mendirikan peradaban kecil yang tidak bisa dikendalikan oleh kolonialisme—karena ia berdiri di atas iman, bukan kekuasaan.

BACA JUGA: Dua Sahabat Hebat: Sultan dan Ulama asal Banten–Makassar Mengguncang VOC

Dakwahnya tidak netral. Ia berpihak. Ia menyasar para budak, pekerja paksa, dan mereka yang diperas oleh sistem kolonial. Kepada mereka, ia tidak hanya mengajarkan ritual, tetapi kesadaran: bahwa manusia setara di hadapan Allah, bahwa penindasan adalah kezaliman, dan bahwa martabat tidak boleh dinegosiasikan. Islam, di tangannya, menjadi bahasa pembebasan.

Peran keluarga—termasuk para istri yang berakar dari lingkungan Banten dan Nusantara—bukan pelengkap, melainkan struktur perjuangan. Mereka menjaga keberlangsungan komunitas, mendidik generasi, dan merawat ketahanan sosial di tengah tekanan. Anak-anaknya menjadi pewaris nilai, sementara murid-muridnya menyebarkan gagasan. Dakwah berubah menjadi gerakan kolektif yang berakar pada keluarga.

Nama “Macassar” yang melekat pada wilayah itu bukan sekadar penanda geografis, tetapi simbol jejak perlawanan. Ia adalah bukti bahwa identitas tidak bisa dihapus oleh pembuangan. Kolonialisme berusaha memutus akar, tetapi justru menanamnya di tanah baru. Dari Makassar dan Banten ke Afrika Selatan, satu garis sejarah terbentang: garis iman yang tidak tunduk.

Ketika Syekh Yusuf wafat pada 1699, VOC mungkin mengira ancaman telah berakhir. Mereka keliru. Yang mereka hadapi bukan individu, tetapi gagasan yang telah berakar. Makamnya di Macassar tidak menjadi akhir, melainkan pusat ingatan kolektif—bahwa pernah ada seorang ulama yang menolak tunduk bahkan dalam pembuangan.

Jejak itu kemudian dilanjutkan oleh Tuan Guru Imam Abdullah dari Tidore. Ia mengubah ingatan menjadi institusi: mendirikan Masjid Auwal dan mengajarkan Islam secara sistematis. Apa yang dirintis Syekh Yusuf sebagai gerakan kultural, dilembagakan menjadi struktur sosial yang berkelanjutan.

Komunitas Cape Malay yang lahir dari proses ini adalah bukti bahwa diaspora bukan kehilangan, melainkan transformasi. Bahasa, tradisi, dan iman berbaur tanpa kehilangan inti. Jejak Melayu, Banten, dan Makassar tetap hidup sebagai identitas yang bertahan di tengah tekanan sejarah.

negara Afrika Selatan bukan sekadar simbol. Itu adalah koreksi sejarah: bahwa mereka yang dulu dibuang sebagai ancaman, justru menjadi fondasi moral bagi bangsa yang lebih adil. Kolonialisme gagal membaca masa depan.

BACA JUGA: Merawat Kota dengan Doa dan Kurban: Perspektif Lintas Agama

Yang tersisa bukan sekadar kisah, tetapi pelajaran ideologis: bahwa iman yang sadar melahirkan keberanian, bahwa keluarga bisa menjadi basis perlawanan, dan bahwa jaringan lintas wilayah—Makassar dan Banten—adalah kekuatan yang tidak mudah dipatahkan. Pengasingan tidak pernah cukup untuk membungkam kebenaran.

Sang Fajar telah terbit sebagai garis perjuangan yang terus berjalan. Tugas generasi kini bukan mengenang, melainkan melanjutkan—menjaga agar iman tidak dijinakkan oleh kekuasaan, dan memastikan keberpihakan kepada yang tertindas tetap menjadi inti. Di titik inilah warisan itu hidup: bergerak, mengakar, dan menuntut keberanian. ***