SERANG, BANTENPRO.CO.ID – Aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau yang kembali terjadi pada Minggu (5/7/2026) memicu kekhawatiran warga pesisir di Kecamatan Cinangka dan Pasauran, Kabupaten Serang. Meski belum berdampak fisik, trauma akan bencana tsunami Selat Sunda 2018 membuat warga tetap waspada.
Ebi (40), warga Kampung Bojong Lulur, Desa Pasauran, menuturkan bahwa dirinya sempat melihat kepulan asap tebal dari gunung tersebut saat berada di warungnya di pinggir pantai. Baginya, setiap peningkatan aktivitas vulkanik selalu membawa ingatan buruk terkait tsunami beberapa tahun silam.
“Pas meletus saya lagi di warung. Kelihatan asapnya lebih besar dari biasanya. Makanya saya langsung khawatir,” ujar Ebi kepada wartawan, Senin (13/7/2026).
Ebi tak menampik bahwa ketakutan warga dipicu oleh memori bencana 2018 lalu. Meski wilayah Pasauran tidak mengalami dampak separah Tanjung Lesung, kepanikan dan trauma saat itu masih dirasakan hingga kini.
“Namanya tinggal di pinggir pantai pasti takut. Takut kejadian seperti dulu terulang lagi,” tambahnya.
Meski cemas, Ebi memastikan warga setempat sudah memahami langkah penyelamatan diri. Ia menyebut, setidaknya ada empat jalur evakuasi yang disiapkan mulai dari Pasauran hingga Kampung Tancang, Desa Bulakan.
Ia berharap pemerintah lebih intensif dalam melakukan sosialisasi mitigasi bencana dan terus memantau aktivitas Gunung Anak Krakatau secara ketat.
“Sosialisasi memang ada, tapi menurut saya harus lebih sering lagi supaya masyarakat benar-benar siap. Kalau bisa ada penataan kawasan pesisir juga supaya kalau ada gelombang, tidak langsung masuk ke daratan,” tegasnya.
Ebi bercerita, peristiwa tsunami 2018 sempat memukul telak ekonomi warga, terutama sektor pariwisata dan nelayan. Ia berharap pemantauan dan mitigasi yang baik dapat mencegah terulangnya sejarah kelam tersebut.
“Hotel-hotel sempat sepi, nelayan takut melaut. Harapannya pemerintah benar-benar kontrol, jangan sampai kejadian yang dulu terulang,” pungkasnya.***













