SERANG, BANTENPRO.CO.ID – Kematian Yoga Saputra (22), seorang mantan karyawan PT GRS di Jawilan, menjadi sorotan publik setelah isu bahwa ia meninggal akibat paparan limbah pabrik beredar luas.
Bupati Serang, Ratu Rachmatuzakiyah, langsung bergerak cepat dengan melakukan inspeksi mendadak (sidak) ke rumah duka dan pabrik PT GRS untuk memastikan kebenaran informasi tersebut.
Pada Kamis, 14 Agustus 2025, Bupati Ratu Zakiyah beserta rombongan mendatangi rumah duka di Desa Cemplang, Jawilan, untuk menyampaikan belasungkawa. Dalam kunjungannya, ia juga menanyakan langsung penyebab kematian Yoga kepada sang ibunda, Yayah.
Yayah membantah kabar yang beredar dan menegaskan bahwa anaknya meninggal karena sakit paru-paru, bukan karena limbah pabrik. Menurut Yayah, Yoga telah berhenti bekerja di PT GRS setahun yang lalu dan telah pindah ke perusahaan lain.
“Saya juga tidak tahu dari mana kabar itu,” ujar Yayah, merasa heran.
Meskipun keluarga telah memberikan klarifikasi, timbul pertanyaan kritis mengenai alasan di balik isu yang beredar luas ini. Mengapa kabar tersebut bisa begitu cepat menyebar dan menjadi perhatian publik, bahkan sampai ke telinga bupati?
Setelah dari rumah duka, Bupati Ratu Zakiyah melanjutkan sidak ke pabrik PT GRS yang memproduksi timbal. Ia didampingi oleh Plt Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH), Yadi Priyadi, dan perwakilan perusahaan, Agung.
Dalam sidak tersebut, Bupati Kepulauan memerintahkan DLH untuk melakukan pengecekan ulang terhadap limbah dan potensi polusi udara yang dihasilkan oleh pabrik.
“Saya minta kepada Dinas Lingkungan Hidup untuk mengecek lagi terutama terkait dengan polusi udara dan limbah,” tegas Ratu Zakiyah.
Perintah ini muncul setelah adanya dugaan kuat terkait paparan limbah, meskipun pihak keluarga telah membantahnya. Hal ini menunjukkan adanya kekhawatiran serius dari pemerintah daerah terhadap dampak lingkungan dan kesehatan yang mungkin ditimbulkan oleh aktivitas industri di wilayah tersebut.
Pengecekan limbah dan polusi udara ini menjadi langkah krusial untuk memastikan keselamatan warga sekitar, sekaligus menjawab keraguan publik terkait standar operasional pabrik. Isu kematian mantan karyawan ini dapat menjadi momentum bagi pemerintah untuk meningkatkan pengawasan terhadap industri, guna mencegah potensi bahaya serupa di masa depan.***














